“Donghae – ah ! apa kau siap ?” tanya Eunhyuk yang ada di sebelahku saat aku melihat team dari sekolah Shinwa masuk ke dalam area sekolah. Namja itu, dia berjalan di depan. Yah, aura jiwa kaptennya sangat terasa. Bisa aku bilang hati yeoja mana yang tidak terpaku dengan dia.
“Oppa !! “ panggil seseorang. Aku dan Eunhyuk menengok bersamaan. Euncha menghampiri kami.
“hei, bukannya kau harus menjaga stan ya ? “ usir Eunhyuk pada dongsaengnya.
“ne, tapi oppa masa aku di satu stan sama Jessica ? “ rewel Euncha.
“yak ! sudahlah, terima saja ! “ jawab Eunhyuk santai.
“Oppa! Aniya !! dia itu seperti nenek sihir !! sudah judes cerewet lagi .. bla .. bla … “ celotehnya panjang lebar. Aku hanya bisa menggelangkan kepala melihat kakak beradik ini adu debat. Lucu sekali.
“arraaa .. “ ucap Euncha akhirnya, mungkin kali ini debat dimenangkan oleh Eunhyuk. Wajahnya dilipat – lipat dan memasang wajah cemberut.
“sudah ! balik sana !! “ suruh Eunhyuk dan dia menurut. Senyum puas berkembang di mulutnya dan Eunhyuk tertawa.
“hei, kasihan dongsaengmu .. “ ucapku.
“hahahhaha biarin !!habis cerewet sih ! “ jawabnya yang terus tertawa puas.
“hahahha !! kau sadar nggak ? kalo kalian berdua sangat cerewet ! kupingku saja sudah panas ! “ sahutku cepat,wajah Eunhyuk berubah serius. Aku mengambil ancang – ancang untuk berlari.
“Yak ! kau FISHYYYY !!! “ teriak Eunhyuk lari mengejarku.
‘Bug ! ‘
“hei ! kalo jalan hati – hati dong !! “ omel yeoja yang berpenampilan ‘WAH’ dengan lagak sombongnya itu. Jessica.
“ah mian .. “ jawab Eunhyuk meminta maaf.
“makanya kalo jalan pakai mata !! “ suaranya mulai meninggi. Eunhyuk mulai ikut emosi.
“Yak !! di mana – mana jalan juga pakai kaki !! “ balas Eunhyuk, aku merelainya. Kejadian barusan sukses membuat semua mata tertuju pada kami. Aku bawa Eunhyuk mejauh dari nenek lampir itu.
“hei, benar kata dongsaengmu. Menakutkan, pantas dongsaengmu nggak mau “ ucapku.
“cih !! menyebalkan sekali !! “ gerutu Eunhyuk.
Acara sudah mau di mulai, aku dan teamku sedang melakukan stretching. Kali ini masih pertandingan footsal, dan setelah ini pertandingan basket. Sambil melakukan stretching aku mencari seseorang, tapi orang yang aku tuju itu belum juga menampakan wujudnya. Apa dia tidak datang dan melihatku bermain ? Aish, kenapa aku jadi kepedean seperti ini !!
“hei, waeyo ?” tanya Eunhyuk di sela – sela stretching kami.
“hm ?” aku hanya mengangkat satu alisku.
“nuguya ?” tanyanya lagi.
“mwoyo ?” tanyaku heran sambil menekuk kaki kananku.
“yak !! jangan pura – pura bego !! aku tau kau menunggu Rin kan ?” godanya.
‘Bletak ! ‘
Sebuah pukulan yang cukup keras mendarat dikepala Eunhyuk. Dia meringis kesakitan sambil mengusap kepalanya.
“Yak !! kau bukannya stretching malah mengobrol ? Sebentar lagi giliran kita ! “ omel Yesung hyung. Aku hanya bengong melihat Eunhyuk yang baru saja di pukul botol air mineral oleh Yesung hyung.
“aduh .. “ rintihnya sambil mengusap belakang kepalanya setelah yesung hyung pergi.
“hahhahahha .. “ tawaku.
15 menit lagi pertandingan akan di mulai. Team kami sudah bersiap, saat reporter memanggil team dari sekolah kami, kamipun keluar. Dengan kostum berwarna merah dan putih pada pinggirnya, kami melangkah pasti. Teamku sudah berbaris di dekat coach kami, menunggu lawan kami. Dan sang reporter akhirnya memanggil team lawan, team dari sekolah Shinwa. Mereka memakai kostum perpaduan warna hitam silver. Rasa ciut mulai menakutiku, apalagi saat melihat dia. Namja yang ‘katanya’ sedang dekat dengan Rin sangat jelas.
Kami di beri waktu untuk melakukan stretching lagi di lapangan, sebelum bertanding. Para penoton sangat ricuh, banyak yang membawa spanduk mendukung sekolah kami, tapi banyak juga yang mendukung dari sekolah Shinwa. Di sela – sela pemanasanku, aku melihat teknik bermain mereka. Damn !! permainan mereka sangat bagus, rasa percaya diriku mulai hilang.
‘Tiieeeeeeeennnn !’
Suara bel tanda permainan sudah berbunyi. Aku mengambil posisi depan untuk melakukan passjump. Aku berhadapan dengan dia, dia menatapku serius dan tajam. Wasit memberi ancang – ancang, tatapan kami terfokus pada bola orange yang ada di depan kami. Bel kembali berbunyi dan wasit melemparnya ke atas. aku melakukan jumping, tapi sial dia mendapatkannya terlebih dulu.
Eunhyuk yang menjadi penyerang sudah bersiap di posisinya. Henry, Yesung hyung, dan pemain lainnya mengejar lawan. Salah satu pemain dari sekolah Shinwa mendribble bola ke arah ring kami, Henry melakukan pertahanan. Tapi dengan sigap anak itu mem-passingkan bolanya ke pemain incaranku.
‘hup’
Dia menangkap bolanya dengan sigap, dan mendribblenya lagi sambil mencari kesempatan yang pas. Aku tidak akan membiarkannya memberi score pertama untuk sekolahya. Dengan cepat, aku yang ada di belakangnya langsung berlari merampas bola itu dan mendribble ke arah ring sekolah Shinwa. Yesung hyung menyoraki para pemain lain untuk mengganti posisi, tapi percuma pertahanan dari lawan sangat kuat. Aku terus mendribble bola itu sambil melihat siapa yang sedang ‘kosong’.
“hyung !” teriak Henry yang saat itu posisinya sedang aman. Tanpa basa – basi aku langsung melamparkan bola ke arahnya dan dia menangkapnya. Kami berdua berlari bersamaan dengan jarak yang lumayan jauh, saat mendekati ring sekolah Shinwa Henry langsung melempar bola itu. Kami melakukan rebond.
‘hup!’
Yak ! aku dapat dan langsung memasukannya ke dalam ring!
‘ding.ding !!’
‘2-0’
Score pertama untuk sekolah kami. Semua penonton bersorak dan semakin ricuh. Aku dan Henry ber-high five. Kami mengatur posisi lagi. Tapi kali ini, bola ada di tangan lawan dan yang memegangnya lagi – lagi dia.
“ini bagianku “ ucapku pada Henry yang melakukan pertahanan di sampingku. Dia mengangguk paham. Aku maju ke depan dan menghalang – halanginya untuk memasukan bola ke dalam ring. Aku merebut bola yang di dribblenya, tapi susah!
“terus lakukan pertahanan !! “ teriak coach kami memberi instruksi. Hangeng hyung.
Pertahanan mulai aku perkuat, tapi gagal ! Dia melakukan three point. Aish sial !
“yak, kalian jangan memberi peluang untuk lawan. Donghae berikan bola kepada yesung saat dia sedang aman, posisinya tadi sudah aman. Kita jangan bermain secara individual, saling berbagi dan yang terutama adalah kekompakkan. “ jelas Hangeng hyung saat break pertandingan. Saat ini score kami sangat beda tipis. 32 – 33. Dan saat ini sudah memasuki periode ke 4.
Mataku mulai menjelajah ke arah bangku penonton. Aku sama sekali tidak menemukan sosoknya. Kemana dia ?
“Eunhyuk-ah, tetap jaga ring! “ teriakku saat menerima bola dari yesung hyung. Aku dan yesung hyung mengarahkan bola ke dalam ring. Makin lama pemain dari sekolah Shinwa semakin kuat, hal ini membuatku dan yesung hyung sedikit kewalahan. Posisiku saat ini sangat terdesak, yesung hyung, Henry dan Eunhyuk jauh dari jangkauanku. Bagaimana ini ? waktu sebentar lagi habis.
Ku lempar bola ke arah Eunhyuk setinggi – tingginya. Eunhyuk melakukan lompatan yang tinggi dan menangkapnya dengan sempurna.Waktu kurang sepuluh detik lagi.
“lakukan !! “ teriak Yesung hyung. Dengan sedikit ragu aku berlari lurus ke arah ring dan Eunhyuk melemparkan bola. Bola itu tertangkap di tanganku, tepat di tengah batas three point aku melompat setinggi - tingginya dan ..
“3 ..
“2….
“HUPP !!” “1 …
‘ding.ding !!’
“YEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE !!!!!!!! “ teriak semua penonton. Aku sibuk mengatur nafas dan Eunhyuk, yesung hyung, Henry, dan pemain lainnya berhambur memelukku. Aku masih bingung.
“hei bocha ikan ! kau sangat hebat ! “ ucap yesung hyung sambil memukul kepalaku pelan. Aku menatapnya heran.
“Ne !! Donghae hyung, aku kasih 4 jempol !! “ sahut Henry sambil memberiku 2 ibu jarinya dan meminjam 2 ibu jari temannya.
“memangnya ada apa ?” tanyaku polos.
“yak !! babo~ya !! KITA MENANG !!!! “ seru Eunhyuk sambil memelukku dan mengarahkan kepalaku ke papan score dan mereka semua memelukku. Hah ? kita menang ?? team kami menang ????
Mereka memelukku erat, bisa aku lihat semua penonton bertepuk tangan dan ya akhirnya aku menemukan sosok yang dari tadi aku tunggu. Dia berdiri di anatara para penonton, dia berdiri dan tersenyum ke arahku. Aku membalas senyumnya. Rasa senangpun tidak bisa aku tolak, selain memenangkan permainan ini, akhirnya dia datang juga.
Setelah melepaskan pelukkannya, pemain dari sekolah Shinwa datang dan member kami selamat.
“kau hebat ! “ puji salah satu dari mereka saat berjabat tangan denganku.
“Gomawo , kau juga hebat! “ jawabku tersenyum padanya.
“Donghae-ah ? benarkah kau yang bernama donghae ? “ tanya ‘dia’, namja itu.
“Ne “ jawabku datar.
“akhirnya kita bertemu juga “ ucapnya sambil tersenyum senang. Aku menatapnya bingung.
“ternyata kau memang hebat !! “ pujinya sambil menepuk pundakku pelan dan pergi dengan teamnya.
“gomawo .. “ jawabku yang masih bingung dengan sikapnya.
Acara sudah selesai, aku dan Eunhyuk bermain – main ke bazaar sekolah. banyak stan yang menjual makanan, minuman, accecories, dan banyak lagi. Kami berhenti di salah satu stan, ya stan acceciories. Aku tertarik saat melihat cincin perak yang terpajang. Simple but elegant.
“aku beli yang ini ya “ ucapku pada si penjaga stan.
“oh ne, gomawoo .. “ jawabnya senang sambil memberikan kotak kecil bentuk bulat berwarna merah itu. Setelah membeli cincin itu, aku mencari Eunhyuk yang mulai menghilang. Setelah mencarinya, ternyata aku menemukannya di salah satu stan yang menjual hiasan hand made.
“beli lah oppa .. “ rengek si penjual pada Eunhyuk.
“aniya, untuk apa aku membelinya ? “ tolak Eunhyuk.
“kau berikan saja ke noona Ami, ya oppa ya .. “ rengek anak itu. Euncha.
“ara .. ara .. aku ambil yang ini saja, tapi dapat diskonkan ? “ tanya Eunhyuk. Yak ternyata penyakit pelitnya kambuh.
“diskon darimana ? ini sudah murah oppa !! oppa saja yang pelit !! Noona Ami kok bisa suka sama orang pelit kaya oppa ? Kasihan ya noona Ami, punya namja chingu yang pelitnya nggak ketulungan, gimana nanti kalo nikah ? “ ejek dongsaengnya. Selalu saja bertengkar kalo bertemu, tingkah mereka bukan seperti anak SMA melainkan anak SD.
“Aish !! Iya iya .. “ dengus Eunhyuk dan akhirnya mengeluarkan uangnya juga. Euncha memang paling jago kalo mengejek Eunhyuk dan membuatnya mati kutu.
“beli apa kau ?” tanya Eunhyuk melihat barang yang aku bawa.
“ini ? mm .. rahasia ! “ jawabku singkat.
“Oppa, beli juga yaaaa .. “ tawar Euncha.
“memangnya kau jual apa ?” tanyaku.
“ini .. “ jawabnya menunjukan barang – barangnya. Aku melihat barang – barang yang aku beli, dan aku tertarik dengan gelang perak rantai yang feminine. Mungkin ini cocok untuk Rin. Aku harap dia suka
“wah pilihan yang bagus oppa !! Rin pasti suka !! Gomapta !! Oppa pembeli terakhirku !! hahahha “ girang Euncha.
“Aish, sok tau !! Siapa bilang gelang ini buat Rin ?” tanyaku.
“Oh bukan buat Rin ya ?” jawabnya polos, aku hanya mengangguk. Hahahha aku suka sekali menggoda Euncha, dia sangat polos.
***
Aku dan Euncha jalan – jalan melihat bazaar. Euncha menawariku segelas ice lemon tea dan sekotak takoyaki kesukaannya. Aku menerimanya.
Kami berjalan lagi sambil memakan takoyaki yang di beli Euncha. Tiba – tiba mataku tertarik dengan satu pemandangan yang sukses membuatku ingin menghantam tembok di sampingku.
“Euncha !!” panggil yeoja keras sambil melambaikan tangannya ke arah kami. Euncha tidak melihatnya dia masih sibuk melihat pernak – pernik di pinggirnya.
"Euncha, “ panggilku menyenggol tangannya. Dia menatapku seolah berkata 'ada-apa-?' Aku juga menjawab hanya menunjuk ke arah yeoja yang memanggil Euncha tadi. Dia mengikuti arah telunjukku, dan dia tersenyum.
Rin dan namja itu mendatangiku. Euncha terlihat sedikit kaget dengan namja yang di samping Rin.
“Gimana bazarnya ? Sukses ? “ tanya Rin.
“Ne, sukses !! Donghae oppa baik, sudah mau jadi pembeli terakhirku. Hahahha “ jawab Euncha girang.
“Oppa, chukae !! “ ucapnya senang.
“untuk ?” tanyaku sedikit tidak konsentrasi.
“Oppa sudah menang ! Chukae oppa !! “ jawabnya lagi. Entah kenapa moodku tiba – tiba rusak.
“oh ne “ jawabku datar.
“Euncha, Jung Soo dari tadi mencarimu “ goda Rin pada Euncha dan namja yang ada di sebelahnya sedikit salah tingkah. Aku sedikit heran.
“Aish kau ini “ gerutu Jung Soo, namja itu.
“halah, tadi saja kau tanya – tanya ‘Euncha dimana Rin ?’, ‘Rin, ayo cari Euncha’ “ kata RIn sambil menirukan gaya Jung Soo. Jung soo dan Euncha langsung salah tingkah.
“sudah, sana .. “ suruh Rin mengusir Jung Soo dan Euncha. Sekarang aku bisa mengambil kesimpulan, jadi Jung Soo dan Rinrin ?? mereka bukan .. ??? Aigoo !! senangnya !!!
“hei oppa !! kenapa bengong ?? Oppa beli apa saja ?? “ tanya Rin yang mengagetkanku.
“hah ?? apa ??” jawabku sedikit salting.
“yak oppa !! oppa beli apa saja ?? itu .. “ ulang Rin sambil menunjuk barang – barang yang aku bawa.
“oh ini, ya cuma pernak – pernik aja. Oh ya, kau mau ?” tanyaku menyodorkan sekotak takoyaki di tanganku.
“gomawo .. “ jawabnya mengambil satu bola takoyaki dan memakannya.
“hmm .. enak oppa !! “ ucapnya girang sampai – samapi dia tidak tau ada mayonnaise yang menempel di ujung bibir atasnya. Dia lucu sekali seperti anak kecil. Dengan sigap tanganku mengelap mayonnaise di bibirnya. Rin sedikit kaget melihat tingkahku, wajahnya sedikit memerah.
“heheheh gomawo oppa “ katanya sedikit grogi.
“ne, cheonmaneo .. “ jawabku tersenyum manis padanya, aku menatap matanya serius. Dan itu juga sukses membuatnya salah tingkah.
“Oppa, kesana yuk !” ajaknya mengalihkan suasana dan jalan mendahuluiku. Aku senang melihatnya salah tingkah seperti ini, lucu sekali.
***
Sore ini aku dan teamku berencana merayakan kemenangan kami. Sebenarnya kita bertemu di tempat langsung, tapi ada sesuatu hal yang mau kulakukan. Ku roggoh tas hitam ranselku untuk mencari handphone Blackberry Bold hitam-merahku.
‘tuut..tuutt..tuu ..’ suara tunggu telpon masih berbunyi. Telpon belum di angkat oleh si pemiliknya.
“yoboseo ?” sapa yeoja di sebrang sana dengan suara khasnya. Rinrin.
“Rin, tolong !! tolong aku !! “ seruku. Aku berniat untuk menjailinya.
“wae oppa ?? gwechanayo ?? “ tanyanya panic. Rupanya sukses akal –akalan ku.
“tolonglah aku Rin, jebal !! Aku ada di lapangan basket sekolah, Aghhhh ..” seruku lagi merintih kesakitan. Dan ku matikan telponnya. Aku harap dia kesini untuk menemuiku.
Sebelum Rin datang, aku menyiapkan apa yang ingin kukatakan padanya nanti. Jujur aku sangat gerogi. Ku ambil mawar merah yang aku beli di toko bunga dekat sekolah.
“bagaimana aku memberikannya ??” tanyaku bingung.
“apa begini ? “ tanyaku lagi sambil mengigit mawar merah itu dan menggosok – gosokkan kedua tanganku.
“atau begini .. “ tanyaku lagi dengan cara memberikan bunga mawar merah ini dengan manis.
“yah ! aku pikir ini saja hahahah .. “ aku tertawa sendiri melihat tingkahku ini

“Rin, would you be my girl ?” tanyaku sambil memngeluarkan kotak merah.
“Rin saranghaeo .. “ kataku lagi, aku sedang memperagakan berbagi gerakan untuk mengungkapkan perasaanku pada Rin. Ya ini pertama kalinya aku mengatakan perasaanku pada seorang yeoja.
Selagi menunggu Rin, aku bermain – main dengan bola kesayanganku ini. Sedikit memutar – mutarnya dengan jari tengahku. Jantungku semakin berdegup kencang tanganku sedikit dingin.
Tak berapa lama kemudian Rin datang dengan tergesah gesah. Terlihat raut wajah khawatir dan panic.
“Oppa !! “ panggilnya dan menghampiriku dari ambang pintu. Aku yang berdiri di atas podium tak tau harus berbuat apa.
“Oppa !! “ panggilnya lagi, raut wajahnya masih panic.
“Oppa gwechanayo ?? waeyo oppa ??” tanyanya beruntun. Entah kenapa aku senang melihatnya panic seperti ini, itu artinya dia mengkhawatirkanku.
“nan neun gwechana, mianhae, Rin .. “ jawabku sedikit bersalah.
“lalu telpon tadi ?” tanyanya kebingungan.
“aku bohong .. “ jawabku pelan.
“apa ?? bohong ?? Oppa jahat !! kenapa oppa berbohong !! apa maksud oppa membohongiku hah?? Aku nggak .. “ ucapnya terhenti saat melihatku berlutut di depannya.
“apa lagi ini oppa ?!!” tanyanya masih kesal.
“Rin, mianhae jeongmal mianhae .. “ ucapku tidak memperdulikan pertanyaannya.
“Rin-ah, dangsin-eun nae yeojagaissneun geoji ? would you be my girl ?” tanyaku to the point padanya. Dia terkejut dengan pertanyaanku.
“oppa .. “ ucapnya sedikit melemah. Aku memberikan bunga dengan caraku tadi. Rin mengambil bunga itu dan masih kebingungan.
“saranghaeo.. “ ucapku lagi sambil berdiri menatapnya lurus mencoba mencari jawaban yang pasti.
“oppa .. “ katanya pelan. Aku takut dia menolakku. Ku pegang tanganya erat dan terus menatapnya.
“nado oppa, nado saranghae .. “ ucapnya akhirnya. Terulas senyum manis di bibirnya dan dia menatapku tulus.
Aku tidak bisa bohong, rasanya aku ingin loncat setinggi – tingginya. Reflek aku langsung memeluk badanya erat sekali.
“oppa !! “ pekiknya sedikit kaget karna pelukanku. Tapi akhirnya dia membalas pelukkanku. Lama kami berpelukan, akhirnya kulepaskan pelukanku.
“gomawo chagi .. “ ucapku pelan dan mendaratkan bibirku ke keningnya yang tertutup poni.
“chagi~a .. “ panggilku sedikit manja padanya.
“wae ?? “ tanyanya salah tingkah, wajahnya merah semu. Dengan cepat aku mencium bibir merahnya itu dan langsung pergi mengambil tas yang aku tinggal di podium sebelum dia mengejarku.
“hiahh !! Donghae oppa !!! “ teriaknya setelah terpaku saat aku mencium bibirnya.
“oppa !! jangan lari kau !! “ teriaknya dan aku masih berlari. Tiba – tiba sesuatu yang besar mengahntam kepalaku sangat kuat. Rupanya Rin melempar bola basketku yang tertinggal.
“hahah !! rasakan ! “ ucapnya penuh rasa puas saat aku duduk terkulai, hantaman bola sedikit membuatku pusing.
“au .. sakit chagi .. “ rintihku dan semua menjadi gelap. Aku pingsan.
“oppa !! oppa .. “ panggil Rin terus menerus sambil menepuk pipiku pelan.
“oppa bangun .. mianhae oppa .. jebal bangun .. “ ucapnya bersalah merangkulku. Aku buka mataku meskipun sedikit berat dan tersenyum padanya. Rupanya dia menangis, aku hapus air matanya yang membasahi pipi putinya.
“oppa .. mianhae ..” katanya suaranya terdengar bergetar. Wajah kami sangat dekat, aku sedikit mengangkat kepalaku. Tangan kananku memegang tengkuk lehernya dan kudektakan ke arahku. Wajahnya semakin dekat dan aku mencium bibirnya pelan. Awalnya dia sangat kaget tapi akhirnya dia membalasnya.
-end-
.hahahhaah akhirnya final juga !! mian kalo jelek :P
No comments:
Post a Comment