All My Heart ♥ (epilog)
Main cast :
Park Jung Soo as Leeteuk
Lee Hyukjae as Eunhyuk
Henry Lau as Henry
Lee Donghae as Donghae
Genre : Romance, Comedy
Hampir 1 bulan Teuki rawat inap, dan hari ini dokter sudah memperbolehkannya untuk pulang. Sebenarnya dia belum diperbolehkan karna dokter takut terjadi infeksi pada lukanya yang cukup dalam. Tapi memang Teuki yang sangat keras kepala ingin pulang. Aish …
“kalo terjadi apa – apa denganmu aku tidak akan peduli, huh! “ omelku kesal sambil
mendorong Teuki yang terduduk dikursi roda.
“tugasku masih banyak yang menumpuk, apalagi harus menjagamu “ jawabnya mendongakkan kepalanya kebelakang melihatku. Aku hanya mendengus kesal, dan berpindah posisi berada didepannya.
“tapi kau kan bisa mengambil cuti, lagipula aku sudah besar… aku juga bisa membawa mobil, jadi… “ ucapku terhenti saat telunjuk Teuki menyentuh bibirku. Teuki-ah, jangan
lakukan ini ditempat umum!!
“aku tidak ingin kau bersama namja lain, itu alasannya aku ingin menjagamu “ jelasnya. Kenapa dia selalu sukses membuatku seperti orang bodoh begini!
“hahaha mukamu sangat bodoh!” pekiknya tiba-tiba. Teuki menertawakanku seenaknya, aku hanya mendengus kesal. Sifatnya benar – benar tidak bisa ditebak, terkadang sangat manis dan terkadang seperti ini, sangat menyebalkan.
“jalanlah sendiri, aku malas “ balasku kesal sambil berdiri dan berjalan meninggalkannya.
“Euncha, kau tega sekali! Kau tak lihat tanganku yang masih diperban?!” ucapnya sedikit
lantang, sampai – sampai para suster dan pengunjung yang berada di lobby melihat kearahku dengan tatapan ‘gadis itu sangat kejam ya’. Araseo Jung Soo kau benar – benar … argh !
Sebelum orang – orang melihatku dengan tatapan lebih aneh, dengan sigap aku berbalik
dan mendorong kursi rodanya kesal. Teuki hanya terkekeh pelan melihat raut wajahku yang tidak berbentuk saking kesalnya.
“yak! Euncha, pelan – pelan !! “ pekiknya saat sengaja kursi rodanya kudorong kencang.
“ini pembalasan untukmu !! “ ujarku ketus. Hahaha rasakan itu !!
~~
“kami pulang … “ sapaku saat memasuki rumah. Hari ini memang hanya aku yang
menjemput Teuki, karna Eunhyuk oppa benar – benar sibuk dikampusnya mengurus semester terakhirnya. Eunhyuk oppa memang pekerja keras J
“nona sudah pulang? Ah .. annyeong tuan park, bagaimana keadaan anda …? “ sapa bibi Hwang padaku dan Teuki. Teuki tersenyum manis.
“sudah membaik, bibi …” jawabnya lembut.
“syukurlah …baiklah kalo begitu saya lanjutkan memasak “ izin Bibi Hwang dan sekarang hanya ada aku dan Teuki diruang keluarga.
“harusnya kau masih ada dirumah sakit “ celetukku tiba-tiba.
“kenapa sedari tadi kau menyuruhku kembali ke rumah sakit?” tanyanya dengan nada dingin. Aku menatapnya bingung ingin menjawab apa.
“ Baiklah kalo itu maumu, kembalikan aku kerumah sakit “ sahutnya dingin sebelum aku mengeluarkan suara.
“Aish! Kenapa kau jadi seperti ini?” tanyaku heran melihatnya yang tiba-tiba berubah drastis.
“kau ingin aku dirumah sakit sajakan? Baiklah “ jawabnya yang langsung mendorong paksa kursi rodanya dengan tangan kanannya dan pergi begitu saja. Dia tampak kesusahan.
“Teuki-ah “ panggiku mengejarnya dan menjangkau gagang kursi rodanya. Menghentikannya. Karna Teukie hanya menggunakan tangan satu untuk memjalankan kursi rodanya, jadi tidak sulit untukku menahannya.
“kenapa dihentikan?” ujarnya dingin tanpa menatapku.
“mianhae… aku tidak bermaksud mengusirmu … “ jawabku yang sekarang sudah berdiri didepannya.
“bukankah itu yang kau inginkan?” tanyanya lagi. Kupegang tangannya dan terduduk dihadapannya.
“oppa… aku hanya takut kalo kau semakin parah … keadaanmu belum sembuh betul… jebal oppa, aku tidak ingin itu terjadi …” jelasku dengan suara bergetar, kuberanikan diri menatap matanya. Karna selama ini aku sangat takut menatap mata seseorang terlebih seorang namja.
“karna aku masih sangat bersalah padamu … aku takut terjadi apa-apa padamu, oppa … aku sangat mengkhawatirkanmu, oppa “ lanjutku, dan Teuki akhirnya balas menatapku.
Teuki tersenyum manis padaku, dan tangannya menggenggam tanganku lembut. Ku alihkan tatapanku, aku sudah tidak tahan melihat matanya yang sangat teduh itu. Membuatku semakin merasa bersalah.
Tiba-tiba Teuki memegang kedua pipiku dan menghadapkannya ke wajahnya.
“kau tau … “ ucapnya lembut. Aku hanya memasang wajah bertanya.
“aku sangat senang hari ini … “ lanjutnya tersenyum manis padaku. Teuki terdiam sesaat, memandang bola mata hitam keabu – abuanku, seperti mencari sesuatu.
“aku bisa melihatmu lagi … aku bisa memantaumu setiap saat … dan aku bisa menjagamu lagi … Lee Euncha … “ lanjutnya lagi dan tiba-tiba Teuki mendekatkan wajahnya, aku bisa merasakan deru nafasnya yng menyapu wajahku. Jantung ku sudah berdegup melebihi kecepatan yang ditentukan. JUNGSOO KAU MAU APA?!!
Jarak wajah kami sekarang semakin dekat, Teuki menutup matanya perlahan. 3cm…2cm… dan …
“Hyaa… mpphh …” teriakku tiba-tiba, apakah aku bermimpi? yah aku bermimpi, aku berada dikamar .. haha untung saja.. tapi kenapa ada yang menempel dibibirku. Oh tuhan jangan …
Ku lirikkan mataku mencari darimana asal sesuatu yang menempel dibibirku ini, kurasakan deru nafas hangat diwajahku. Saat ku lihat dengan mataku benar – benar yang ada di hadapanku sekarang. Dan yak yang benar saja !!
Mataku membulat besar dan wajahku sudah sangat panas melihat apa yang ada dihadapanku. Aku benci mengatakannya …
Aku … aku … berciuman dengan TEUKI ????
Kulihat dia juga terbelalak kaget melihatku tengah mencium bibir tipisnya. Kami berdiam dengan posisi ini cukup lama, entah aku tidak tau apa yang ada dipikiranku dan dirinya sampai tiba – tiba …
Dok .. dok .. dok …
“Leeteuk, apa Euncha ada disitu?” suara Eunhyuk oppa diluar sana. Cepat – cepat kulepaskan ciumanku dengan Teuki dan pergi begitu saja. Tunggu dulu, apa yang aku lakukan disini? Rupanya aku salah kamar lagi…
Aish! Lee Euncha … sejak kapan kau mempunyai kebiasaan buruk tidur di kamar Teukie, huh???
BRAK!!
“yak .. kau pikun? disini kamarmu …” pekik Eunhyuk dari luar.
“aku juga tidak tau … kenapa aku ada disini, Aish! Babo babo! “umpat yeoja diluar sana. Euncha.
“eh? Waeyo ? memangnya apa yang terjadi ??” tanya Eunhyuk kebingungan.
“ a… aniyoo .. sudah aku mau mandi! “ seru yeoja itu yang langsung masuk kedalam pintu didepannya. Leeteuk hanya tersenyum mendengar kakak-beradik yang mengomel diluar sana dari dalam kamarnya. Leeteuk tersenyum sambil memegang bibirnya yang masih hangat.
“Aish!! Park Jung Soo, kau benar – benar dibuatnya gila sekarang!! “ umpat Leeteuk dalam hati dengan senangnya. Senyumannya terus berkembang dibibir merah, tipisnya.
“Euncha … “ panggil sesorang sambil berlari kecil kearahku. Seoarang namja dengan seragam ala murid laki-laki yang sudah berantakan. Aish, Donghae oppa!
“Wae?” tanyaku saat Donghae oppa sudah berada didepanku. Dia berhenti sejenak mengatur nafasnya. Setelah dia rasa sudah sedikit relax, Donghae oppa mulai berbicara.
“tunggu dulu, bukannya … kau pulang dengan Rinrin? Kenapa masih ada disini?” tanyaku berentet memasang wajah penasaran. Donghae oppa mengangguk ala aegyo-nya, dan menunjuk – nunjukku. Pertanyaanku sepertinya tepat sasaran.
“itu dia … Rinrin sudah pulang .. “ sahutnya sedikit ngos-ngosan.
“mwo? Lalu, kenapa kau kembali lagi kesini?” pekikku.
“bukan kembali … tapi aku tidak mengantarnya pulang “
“mwo?! Tega sekali kau !” pekikku lantang.
“aish! Pelankan suaramu, ayo ikut aku … “
“mwo? Apalagi sekarang, kau malah mengajakku pergi?!” sahutku ketus.
“Aigoo!! Aku mau bicara denganmu! “
“mwo?!! Kau mau merayuku? Mian oppa, aku tidak tertarik denganmu! Lagip
Donghae oppa menyeretku ke taman sekolah yang sudah sepi, sekarang memang sudah jam pulang sekolah bahkan sudah 1 jam yang lalu. Hari ini aku memang pulang sendiri, untuk saat ini aku menyuruh Teuki cuti mengantar jemputku, meskipun daritadi pagi dia sangat memaksa ingin mengantarku. Tapi dengan puppy eyes ajaran Donghae oppa ini, akhirnya dia luluh. Oh ya Donghae oppa! Aku lupa!
Setelah dia menyeretku ke taman sekolah, akhirnya dia melepas bungkamanku.
“huufff … “ hela nafas lega dari ku dan BLETAK!!
“aw !! “ serunya saat aku memukul kepala Donghae oppa dengan tumbler-ku cukup keras. Sepertinya sangat sakit, sampai-sampai dia meringis kesakitan sambil mengusap kepalanya.
“aku tidak bisa bernafas! Kau mau membunuhku, huh!” pekikku ketus.
“Aish! Dengarkan aku dulu, aku mau bicara serius denganmu … “ ujar Donghae oppa sambil memegang tanganku.
“sudah aku bilang aku tidak tertarik denganmu! “ BLTAK !!
“aw!” sekarang aku yang merintih kesakitan, karna tumbler yang ada ditanganku berpindah alih ditangan Donghae oppa.
“aku serius !” serunya.
“aku juga serius!!” balasku.
“baiklah daripada berbelit – belit dan kepalaku bisa bocor gara-gara kau! Aku … “
“Aku ? mworago ?” tanyaku penasaran. Donghae oppa menatapku serius, aku menunggu perkataan selanjutnya yang terlontar dari mulutnya.
“huah! Euncha, tolong bantu aku… !!” pekiknya tiba – tiba di sela – sela suasana serius. Cih, kenapa dia seperti anak kecil.
“boe??? “ tanyaku heran pada Donghae oppa yang bermimik sedih seperti anak kecil yang kehilangan balon.
“bantu aku meyakinkan Rinrin … “
“memangnya ada apa? Kalian bertengkar ??? atau jangan – jangan … “
“andwae!! Kita belum … Aish! Maksudku aku tidak mau hubunganku dan Rinrin berakhir, Eunchaaa “ jelasnya dengan mimiknya yang seperti itu. Entah aku merasa iba atau geli. Seorang Donghae oppa, namja kaya, tampan dan sangat populer ini bertingkah 180˚ jauh berbeda dengan anggapan semua orang.
“tunggu dulu! Apa kau menyakitinya?” tanyaku penasaran melupakan rasa geliku pada Donghae oppa, dan Donghae oppa hanya mengangguk.
“Aish !”
“Yak! Jangan pukul aku dengan itu, pukul dengan ini saja “ serbunya saat aku hendak memukulnya dengan tumblr dan menggantinya dengan buku tebal yang aku bawa.
“jadi begini … “
*Flashback*
*Donghae POV*
“apa kau memaafkanku?” tanyaku padanya berharap Rinrin akan memaafkanku. Aku memandangnya, berusaha meyakinkannya kalo aku benar – benar mencintainya.
“…mianhae oppa … “ jawabnya pelan, karna deru hujan semakin keras tapi aku masih bisa mendengarnya. Apa dia tidak memaafkanku??
“mianhae oppa … aku tidak bisa … “ lanjutnya lagi. Suara petir berdentu keras sepertinya petir yang menyambar hatiku. Rasanya tubuhku melemas, tanganku yang memegang pipinya berangsur melemah. Dadaku sangat sesak, apa ini karma untukku?
“mianhae oppa, kita harus akhiri sekarang … gomawo “ ucapnya terakhir kalinya dan berjalan meninggalkanku. Aku masih terdiam dan terpaku ditempatku.
“SHIN RINRIN!!!! “ teriakku lantang dibarengi dengan petir yang menggema. Tubuhku langsung limbung.
Pagi harinya …
Seperti biasa aku menjemputnya, aku berusaha seolah tidak terjadi apa – apa diantara kita semalam. Aku harap malam itu hanyalah mimpi. Aku menunggu didepan rumahnya, akhirnya orang yang aku tunggu keluar juga. Ku hampiri dia.
“kau sudah siap?” tanyaku mengagetkannya yang sedang membuka pintu pagar pendek bewarna putih itu. Dia tampak kaget melihatku ada dihadapannya sekarang.
“apa kau sudah siap?” tanyaku lagi. Tapi Rinrin malah menghindariku, dengan sigap aku langsung menarik tangannya.
“oppa lepaskan aku, aku mau berangkat sekolah “ serunya ketakutan saat aku mencengkram tangannya
“kita berangkat bersama seperti biasa “ jawabku terus tak percaya pada kenyataan.
“oppa, kita sudah tidak berhubungan lagi! Kita sudah mengakhirinya !!” serunya yang tiba-tiba menangis
“ANDWAE !! Kau yeojachinguku, kau masih yeojachinguku !!” seruku dengan amat keras dan membuatnya takut. Mataku memerah dan sangat panas, dadaku benar – benar sesak.
“oppa, kau terima kenyataanmu! Kita tidak berhubungan lagi!! “ teriaknya dan tangisnya makin pecah. Kutarik tangannya dan memelukknya erat, tangisku pecah juga akhirnya.
“kita masih sepasang kekasih… bahkan selamanya … “ ucapku bergetar. Rinrin berusaha mengelak pelukanku, tapi sekuat tenaga kupeluk Rinrin semakin erat. Dan akhirnya rontanya semakin melemah.
“aku tidak mau Rinrin … aku tidak mau mengakhirinya, jebal … mianhaeo … “ ucapku lagi, dia masih menangis dipelukanku.
“aku tidak akan melakukannya lagi, percayalah padaku … “ lanjutku, setelah kurasa sedikit tenang ku lepaskan pelukanku dan memegang pipinya lembut. Menatapnya dengan mataku yang masih berlinang air mata.
“beri aku satu kesempatan lagi … aku akan membuktikannya “ janjiku padanya. Aku menunggu jawabannya.
“jebal … “ pintaku lagi dengan suaraku yang hampir habis. Dan akhirnya dia mengangguk pelan ..
Akan kubuktikan kalo aku tidak ingin kehilangannya…
*Flasback End*
“bantu aku membuktikannya … “ ucap Donghae oppa setelah menceritakan panjang lebar keluh kesahnya.
“kenapa aku harus membantumu? Cuma kau oppa, yang bisa membuktikan perasaanmu padanya! Bukan aku yang membantumu, itu artinya kau tidak serius dengannya. Kau tidak mempunyai keberanian “ jelasku seperti penasihat untukknya.
“kau benar juga, lalu aku harus berbuat apa?”
"pikirkan dengan tenang oppa, aku yakin pasti kau akan menemukannya " jawabku tersenyum manis padanya.
"ne, kau benar Euncha. Gomawoyo " ucapnya seraya mengacak rambutku halus.
“kau yakin tidak mau aku antar?” tawar Donghae oppa untuk mengantarkanku pulang. Aku menggeleng keras.
“gomawo oppa, tapi aku bisa pulang sendiri, lagipula ada yang ingin aku beli disupermarket “ jawabku.
“kau yakin? Geudae .. aku pulang dulu ya, gomawo sudah mau mendengarkanku dan memberiku saran .. aku pasti akan berusaha “ balasnya sambil mengacak rambutku dan memakai helmnya.
“aish! Ne, jalga oppa “ seruku sambil melambaikan tangan pada Donghae oppa yang sudah pergi dengan motor sport-nya.
“Geudae Euncha, mari kita pulang! “ seruku sendiri dan pergi. Sebelum aku pulang aku ingin membeli beberapa cemilan disupermarket dekat halte. Tapi …
“Euncha … “ panggil seorang namja dibelakangku. Aku membalikkan badanku. Mworago ??
“neo … ?” ucapku terbata.
“bisa kita bicara … “ tanyanya. Aku berpikir sejenak lalu mengangguk pelan menerima tawarannya.
Eunhyuk sedang berputar – putar resah didepan pintu. Menunggu Euncha. Leeteuk yang melihatnya juga ikut gelisah. Jam menunjukkan pukul 8 malam, dan Euncha belum pulang juga.
“kau kemana lagi?? Selarut ini, kau belum pulang juga … “ gumam Leeteuk dalam hati.
“Aigoo chagiya, neomu eoddi-a?” seru Eunhyuk.
“gomawo … “ ucap yeoja di luar sana dan deru suara mesin mobil. Eunhyuk dan Leeteuk bergegas kedepan.
“Aigoo, kenapa pulang selarut ini? Kenapa kau tidak menghubungi oppa?? Kau matikan handphonemu lagi?? Kau ini, setidaknya kau beritau seisi rumah kau pergi kemana!” marah Eunhyuk pada Euncha yang baru saja datang.
“mianhae oppa, handphoneku mati …dan “
“sudah sekarang masuk! “
“arraseo … “
“Neo … “ gumam Leeteuk sinis melihat namja yang mengantar Euncha.
“mau tidak mau aku harus mengantarmu! “ seru Teukie padaku. Pagi – pagi seperti ini, aku sudah bertengkar dengannya. Dia memaksaku untuk mengantarkanku kesekolah lagi.
“tapi oppa … kau butuh istirahat “ jawabku berusaha sabar.
“aku sudah sangat sehat, kaza masuk kedalam mobil. Aku akan mengantarkanmu “ serunya tidak mau tahu.
“oppa, …” Aku terus mengelaknya.
“MWO?? Tapi apa???!! Kau tidak ingin diganggu dengan namjachingumu ?” tanya Teuki tiba-tiba sangat dingin dan sinis. Aku semakin heran melihatnya sepagi ini bertingkah seperti ini.
“kau bicara apa?? Namjachingu ??” tanyaku tak percaya.
“kau masih berhubungan dengannya, bukan begitu?” tanyanya menyudutkanku.
“oppaa… kau bicara apa? Aku …”
“baiklah, silahkan kau berangkat sendiri “ seru Teuki yang tiba-tiba meninggalkanku dengan langkahnya sedikit terseret. Teuki-ah … kenapa sikapmu berubah setiap saat ??
“Eunchaa!! “ panggil namja yang merengek padaku waktu itu. Donghae oppa.
“Ne? “ tanyaku heran. Kali ini wajahnya sangat ceria. Apa dia membawa kabar gembira untukku.
“gomawo !! “ serunya tiba – tiba memelukku. Dipontang – pantingnya tubuh mungilku.
“hyaa !! oppa, lepaskan aku! Banyak yang melihat !! “ suruhku untuk menurunkanku. Akhirnya Donghae oppa menurunkanku. Dia terkekeh pelan, wajahnya sangat gembira.
“aku … “ ucapnya terputus dengan menahan senyum.
“ne ?” tanyaku penasaran menunggu kata – kata selanjutnya.
“aku … dan Rinrin … “
“ne ??? “ tanyaku semakin penasaran.
“hahahahahahaha!! Rinrin menerima pembuktianku !! dan itu artinya … “
“dia menerimaku sebagai namjachingu-nya lagi !!!” lanjutnya girang sambil memelukku lagi.
“chukkae oppa !! “ seruku girang membalas pelukkannya.
“gomawo Euncha !! “ pekiknya yang ikut girang.
Suasana hari ini cukup mendung, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Kuputuskan untuk turun ke bawah. Aku melihat Eunhyuk oppa yang sedang mengerjakan sesuatu dihalaman belakang.

“oppa … “ panggilku pada Eunhyuk oppa yang sedang mengerjakan sesuatu didepanku. Dia tidak bergeming, Eunhyuk oppa terus mengerjakan yang aku tak tau itu apa. Sangat tidak jelas -__-“
“oppa … “ panggilku lagi, kali ini dia hanya melihatku sekilas dan tersenyum lalu kembali berkutat dengan pekerjaannya seperti tugas anak kecil . gambaran yang sangat aneh –“
“oppa, apa aku boleh bertanya sesuatu ?” tanyaku hati – hati.
"ne, kau mau tanya apa chagi ?” jawabnya sambil terus menggambar.
“mm … begini … “ jawabku menggantung sambil memainkan spidol milik Eunhyuk oppa didepannku.
“oppa, apa pantas … aku menyukai …namja seumuran denganmu?” tanyaku sedikit terbata, ku beranikan diri untuk bertanya tentang apa yang aku rasakan sekarang. Tapi aku takut Eunhyuk oppa berpikiran yang tidak – tidak. Dan benar saja dia langsung menatapku kaget.
“mwo? Kau menyukaiku, chagi??” tanyanya shock dan sedikit menahan tawa.
“yak!! Bukan begitu !!” sahutku cepat.
“ah … bilang saja, chagiya! Aku juga menyukaimu … “ jawab Eunhyuk oppa menahan tawa sambil mengedipkan sebelah matanya. Menggodaku.
“Aish.. bukan begitu ... Ah sudahlah oppa, memang susah berbicara denganmu ! “ pekikku pergi begitu saja.
“mwo?” Tanya Eunhyuk oppa yang masih menahan tawa melihatku datang lagi. Aku menatapnya kesal dan tiba – tiba mengacak – acak crayon dan spidol didepannya dan pergi meninggalkannya.
“hei hei hei !! “ serunya kesal melihatku mengacak – acak hasil karya anehnya.
“ Chagi, tidak ada yang melarangmu menyukai namja seumuran denganku! Terlebih lagi namja itu juga ….. “ suara Eunhyuk oppa tidak terdengar lagi, karna aku sudah naik kelantai 2.
Aish sudahlah, oppaku yang satu ini memang suka sekali menjaili dongsaengnya. Hmm … tapi, apa yang di bicarakan Eunhyuk oppa tadi ??
~kriek
Suara pintu didepan kamarku dibuka, ya pemilik kamar itu keluar. Teuki. Entah sejak saat dia memaksaku untuk mengantarkanku yang langsung aku tolak dan kami bertengkar, sampai sekarang kami tidak berkomunikasi. Bahkan aku merasa Teuki menghindar dariku … aku merasa kehilangan dia… apa ?? kehilangan??
“Teuki-ah … “ panggilku saat dia melewatiku begitu saja. Dia hanya diam ditempat tanpa berbalik padaku.
“Teuki-ah, bagaimana keadaanmu ?” mm…sangat kaku sekali, tapi aku tidak tahu harus berkata apa padanya. Teukie hanya diam, suasana menjadi dingin. Aku tidak suka ini.
“apa kakimu sudah mendingan ?? “ pertanyaanku semakin aneh saja. Tapi Teuki hanya diam, dan bersiap untuk pergi.
“Teuki-ah, kenapa kau berubah!?” pekikku akhirnya dan sukses menghentikan langkahnya.
“kenapa kau selalu berubah setiap saat padaku ?? Kau terkadang sangat baik padaku, tapi terkadang juga kau bersikap seperti ini padaku.. Wae Teukie-ah ??”
“ Teuki, aku tau kau marah … kau boleh marah denganku, tapi tolong jangan seperti ini !! “ pekikku lagi.
“aku lelah menanggapi sikapmu yang seperti ini!! aku benci kau yang sekarang !! kau berubah Teuki !! “ teriakku. Tak terasa air mataku menetes, sejak kapan aku menangis?
Teuki membalikkan badannya lalu menatapku. Aku hanya terisak ditempatku berdiri.
Teuki lakukan sesuatu, lakukan sesuatu jebal… jangan suruh aku untuk membencimu …
Tiba – tiba Teuki berjalan menjauh dariku. Tangisku makin pecah.
Baiklah kalo ini maumu, Teuki …
Tiba – tiba sesuatu yang hangat melingkar diperutku saat aku membalikkan badanku hendak masuk kedalam kamar. Sosok itu menenggelamkan wajahnya dipundakku. Aku terhenyak sesaat. Dia semakin mempererat pelukkannya. Hangat.
“Teuki … “ pekikku lirih. Basah dipundakku, apa dia menangis?
“kau yang membuatku berubah!” gumamnya pelan dipundakku tapi terdengar jelas.
“kau membuatku gila !!” lanjutnya lagi dan membuatku tersentak kaget.
“aku gila karnamu … aku sudah gila karna kau, Euncha !!” jawabnya lagi dengan suara parau.
“Teuki …” mulutku rasanya tersekat, tidak mampu berbicara.
“aku gila karna kau dengannya … aku takut dia bersamamu lagi … aku takut dia merebutmu lagi … “ ucapnya mempererat pelukkannya dan itu membuatku semakin hangat.
“Teuki-ah … “ panggilku memegang tangannya yang melingkar diperutku.
“aniyo… biarkan seperti ini, aku ingin seperti ini… kalo ini adalah terakhir kalinya aku bisa memelukmu seperti ini … “ ujarnya semakin mempererat pelukannya. Jantungku rasanya berhenti sesaat. Kenapa dia berpikir seperti itu?
“Teuki-ah … “ panggilku berusaha melepaskan pelukkannya. Setelah berhasil melepas pelukkanya, Ku balikkan tubuhku menghadapnya, kutatap Teuki sebentar. Dan langsung memelukknya hangat.
“kau salah paham oppa … “ ucapku pelan.
“aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Henry, oppa… Kau hanya salah paham, mianhae … aku membuatmu tersiksa … “ jelasku, Teuki mempererat pelukanku.
“gajimalayo … “ ucapnya lirih.
“kumohon kau jangan berubah, oppa … “ lanjutku. Tiba – tiba terbesit dipikiranku … yeoja itu ??
~~~
“aku ingin mengenalkanmu pada sesorang … “ ucap Teuki senang, menarikku ke sesuatu tempat. Hmm … rumah sakit?
“rumah sakit?” tanyaku mengernyitkan keningku. Heran. Dia hanya tersenyum dan membawaku kesebuah kamar pasien.
“Chagi, aku datang … “ sapa Teuki senang seraya masuk kedalam. Deg!
Apa maksudnya membawaku untuk menemui yeoja-nya ???
Kesal dan sakit memenuhi dadaku, dia namja bodoh atau bagaimana??
Teuki tidak melepas genggaman tangannya padaku, dan menyuruhku masuk. Saat aku masuk, aku melihat seorang yeoja tengah terbaring lemah disebuah ranjang dengan selang yang menancap ditubuhnya. Seperti hidupnya bergantung dengan selang – selang itu.
“Chagi, oppa datang … “ sapanya tersenyum perih sambil mengusap rambut yeoja manis yang seumuran denganku itu.
“…” hanya bunyi EKG diruangan ini yang terdengar. Iba .. ya rasa kesal itu tiba – tiba hilang begitu saja, yang aku rasakan sekarang hanya iba melihat yeoja itu. Teuki tampak menyayanginya.
“Chagi, oppa sudah menepati janji oppa … lihat” ucapnya lagi dan kali ini Teuki melihatku. Apa maksudnya?
“sekarang … tepati janjimu chagi, illeonna … “ suara Teuki berubah parau, rupanya dia menahan tangis. Gadis itu hanya diam, seperti patung hidup.
“Teuki-ah … “ ucapku memberanikan diri mendekatinya sambil mengusap pundaknya. Menenangkannya. Aku tidak tega melihatnya seperti ini.
“sampai kapan oppa terus menunggumu?? “ pekiknya mulai tidak kendali. Aku semakin sakit melihatnya, kupeluk Teuki berusaha untuk menenangkannya.
“dia dongsaengku satu – satunya … sejak kecil dia memang sakit – sakitan, dokter mendiagnosa dia mengidap gagal jantung … “ ucapnya terbata saat kami menenangkan diri diluar kamar yeoja yang ternyata adalah dongsaengnya. Lega sekali, tapi aku terlalu jahat kalo aku bersikap seperti ini …
“dia sudah melakukan pencangkokan jantung, tapi sampai saat ini dia tidak sadarkan diri dari koma .. dia ingin bertemu denganmu, aku berjanji padanya sebelum dia koma untuk membawamu kesini, tapi samapi saat ini … “ lanjutnya, rahangnya mengeras menahan isak tangisnya. Aku tidak tau harus berbuat apa, yang aku bisa sekarang hanya memeluknya. Cukup kaget juga mendengar penjelasannya, untuk apa dongsaeng-nya ingin bertemu denganku?
“dia pasti sembuh oppa … kau harus percaya itu … “ hanya itu yang bisa kukatakan pada Teuki yang tengah menangis dipelukkanku.
“annyeong, naneun Lee Euncha imnida … namamu siapa? .. Ahh, kau yang bernama Park Jiyeon, kah?? salam kenal ^^” sapaku pada dongsaeng Teuki yang masih tidak sadarkan diri.
“ne, oppa-mu bercerita banyak tentangmu dan dia berkata padaku kalo kau ingin menemuiku, jeongmalyo? Wah .. aku juga senang sekali aku bisa bertemu denganmu… “ celotehku yang hanya dibals oleh Teuki dengan senyum pahit.
“hmm … ? Kau sangat menyayanginya? Oppamu juga sangat menyayangimu … Oh ya Jiyeon, kau tau oppamu sangat merindukanmu, aku yakin kau pasti juga merindukannya .. “ celotehku sendiri yang tidak dibalas satu katapun oleh Jiyeon. Terkesan seperti orang gila memang, tapi aku sangat yakin … dia tidak tidur, dia dapat mendengarku … dan dia juga bisa merasakan perasaan kita seperti orang yang normal.
“euncha .. “ panggil Teuki yang sedari tadi melihatku berbicara sendiri dengan dongsaeng kesayangannya.
“shshs … kami sedang berbicara, jangan ganggu kami. Benarkan Jiyeon ?”
“Oya Jiyeon, sebentar lagi musim salju tiba, apa kau menyukainya? … jinca? Kau menyukainya? Aku juga menyukai musim salju … Jiyeon, apa kau mau bermain salju bersamaku nanti? Pasti menyenangkan … jadi, lekaslah sembuh … kami semua menunggumu … “ ucapku menggenggam tangan rapuhnya. Aku yakin kau mendengarnya Jiyeon …
~~~
4 tahun kemudian …
“Chagiya!! Lama sekali kau ?!!” teriak seseorang dari bawah. Aku sedang sibuk memilih baju. Hari ini hari penting untuk Eunhyuk oppa, karna hari ini adalah hari pernikahannya dengan Ami eonni. Akhirnya mereka menikah juga ^^
“Arraseo!! Aish cerewet sekali … “ gumamku. Setelah cukup lama mengobrak – abrik isi lemariku. Kuputuskan untuk memakai dress berwarna peach silver selutut dengan lipatan mermaid memanjang dibelakangnya. Setelah mengganti bajuku dengan dress yang aku pilih. It’s time to touch-up!
Rambutku yang berwarna coklat, ku gelung simple dengan aksesoris mungil berbentuk bintang dengan permata yang senada dengan dress yang kukenakan. Hadiah dari seseorang yang sangat berarti bagiku saat ulang tahunku yang ke 18 tahun. Setelah menggulung rambutku, ku biarkan poniku yang sudah memanjang terurai. Ku oleskan sedikit eyeshadow putih pada tepi mataku, memakai eyeliner simple, dan blush on tipis. The last but not least, lipgloss pink-peach pada bibirku. Just simple!
“Chagiyaaa !! “ panggilnya lagi.
“Ara!! Aku sudah selesai!! “ teriakku dan langsung kupakai highheels silverku. Aish menyebalkan sekali!
Aku pun menuruni tangga, dan yang benar saja tidak ada orang! Aish, sudah memanggilku tapi sekarang ?? Eunhyuk oppaaaa !!!
Sepertinya tamu appa dan para undangan sudah datang. Ruangan penuh sesak dengan orang – orang berpakaian formal. Aku sama sekali tidak menemui appa maupun Eunhyuk oppa. Eoddi-a ??
“hi, Euncha !!” panggil sesorang ditengah kerumunan orang – orang. Aku mencari asal suara itu, dan si pemilik suara melambai padaku ..
“apa benar kau Lee Euncha? “ tanya seorang namja dengan rambut orange messy-nya dan dibalut dengan jas putihnya, dia sangat tampan.
“Ne, oppa ^^.. Donghae oppa “ jawabku menebak namja didepanku itu. Hampir 6 tahun kami tidak bertemu. Dia sama seperti dulu, tetap tampan meskipun sangat berbeda 180° penampilannya, yang lebih dewasa. Tiba – tiba seorang yeoja yang sangat elegan datang membawa sampagne ke arah Donghae oppa yang tak lain adalah …
“Rin-ah ?” sapaku memastikan.
“Euncha?? “
“jadi kalian?? “
“Ne … “ jawab Rinrin tersipu malu.
“bahkan kami sudah bertunangan … “ jawab Donghae oppa mantap sambil menunjukkan cincin pertunangan mereka. Aigoo manis sekali …
“Lalu? Kapan kau akan meyusul ?” tanya Rinrin menggodaku.
“ha, menyusul? Hahahahaha kalian ini … “ tawaku, hmm .. bertunangan?
“Chagi !” panggil seorang namja padaku dengan pakaiannya yang sangat formal, tuxedo berwana putih dan dengan rambutnya yang bergaya fauxhawk membuatnya sangat tampan.
“Omona !! neomu yeoppo, chagiya .. pantas saja kau sangat lama –“ “ entah itu mengejek atau memujiku, tapi aku senang akhirnya Eunhyuk oppa akan berkeluarga.
“aish … hajiman.. chukkae oppa ^^” pelukku padanya. Hmm .. aku akan kehilangan oppa kesayanganku …
“gomawo chagiya … ohya ada seseorang yang menunggumu … “ kata Eunhyuk oppa. Menungguku ?
“nuguya ? Appa ??” tanyaku penasaran. Eunhyuk oppa menggeleng keras. Tiba – tiba menarikku masuk ke dalam kerumunan orang. Hya !!
“tunggu disini “ suruh Eunhyuk oppa yang langsung meninggalkanku ditengah kerumunan banyak orang.
Cukup lama juga aku menunggu Eunhyuk oppa, terdengar alunan musik tango yang sangat melow. Apa sekarang waktunya berdansa?? Omona !! Eunhyuk oppa, kau meninggalkanku di tempat seperti ini !! Awas saja kau !
Semua orang sudah bersiap dengan pasangan masing – masing, aku hanya berdiri sendiri melihat mereka. Tiba – tiba ada yang menyentuh pundakku.
“dance with me?” pinta seorang namja berwajah aegyo dihadapanku sambil mengulurkan tangannya padaku, sangat elegan. Aku kebingungan, dengan ragu ku pegang tangannya.
Kami mulai berdansa, aku memang bisa berdansa apalagi tango dan salsa. Tapi jujur aku tidak siap sekarang. Ku coba saja untuk menikmati setiap alunan musiknya. Setelah beberapa lama, akhirnya aku mulai menyesuaikan irama dan hentakan kakiku. Tapi tiba saatnya dengan pergantian pasangan
secara tiba – tiba, namja itu mengulurkan tangannya padaku dan memutarku untuk berganti pasangan. Dan hup!
Tertangkap, dengan seorang namja lain dan …
“neo ..” ucapku terbata. Melihat namja yang akan menjadi pasangan dansaku. Aku benar – benar tidak percaya. Kurang lebih 10 tahun sudah aku tidak melihatnya, dan dia sama seperti dulu tampan, tapi sekarang dia sangat tampan. Dengan jas hitamnya dan rambutnya yang pirang. Matanya sangat tajam, membuat kesan misterius padanya.
“Ne … “ jawabnya tersenyum padaku. Manis sekali, senyuman yang selama ini kurindukan. Tiba – tiba dia menuntunku kembali kedalam lantai dansa. Kamipun berdansa kembali, menikmati setiap alunan musik tango.
“Euncha, “ panggilnya setelah dansa usai.
“Ne?” tanyaku
“kau tumbuh menjadi seorang yeoja yang sangat cantik .. “ pujinya. Aku hanya tersipu mendengar pujiannya.
“dan itu … kau?” ucapnya saat melihat bintang yang menghiasi rambutku. Aku mengangguk pasti.
“kau menyimpannya?” tanyanya lagi. Aku tersenyum dan mengangguk.
“jelas aku menyimpannya ini adalah hadiah terakhir yang kau beri, sebelum kau pergi tanpa izin dariku! “ dengusku kesal. Memang sangat kesal mengingat saat itu, dia meninggalkanku begitu saja tanpa pamit padaku.
*flashback
Sepulang sekolah aku, Donghae oppa, dan Rinrin seperti biasa duduk ditaman sekolah sambil menunggu Teuki yang menjemputku. Tapi sudah hamper jam 5, dan Teuki sama sekali belum datang. Handphone-nya pun tidak aktif.
‘tin..tin… ‘
Sebuah mobil Hyundai Azera hitam berhenti didepan gerbang sekolah, sepertinya aku mengenal sipemilik mobil. Eunhyuk oppa?
“Ah, aku pulang dulu oppa, Rin … “ pamitku beranjak dari tempat dudukku.
“memangnya kau sudah dijemput? “ tanya Rinrin.
“ne, itu Eunhyuk oppa sudah menungguku didepan “ jawabku sambil menunjuk mobil didepan pintu gerbang.
“geudae … jalja euncha” jawab Donghae oppa.
“kenapa oppa yang menjemputku ?” tanyaku bingung saat sudah berada didalam mobil.
“mm … aku hanya iseng, hehehe memangnya tidak boleh menjemput dongsaeng-nya sendiri?” tanya Eunhyuk oppa dengan bibir mengerucut.
“ah bukan begitu … -___-“ “ jawabku.
Sesampainya dirumah …
“oppa, kenapa sepi ? kemana bibi Hwang dan …. Teuki ?” tanyaku melihat sekeliling rumah yang sepi.
“mm … bibi Hwang izin, karna anaknya sedang sakit. “ jawab eunhyuk oppa.
“lalu Teuki ?”
“ganti bajumu … dan mandi, nanti kita makan direstoran saja ya “ sahut Eunhyuk oppa tidak menjawab pertanyaanku.
“oppa, teuki oppa dimana ?” tanyaku lagi.
“ayoo mandi, kaza “ serunya lagi.
“Oppa!!” pekikku. Eunhyuk oppa sedikit kaget melihatku berteriak padanya.
“dimana teuki ,oppa?” ulangku lagi.
“kau duduk dulu … “ Eunhyuk oppa menyuruhku duduk, dan aku menurutinya. Tiba – tiba suasana menjadi hening. Eunhyuk oppa tampak seperti berfikir.
“chagi, saat ini Leeteuk tidak bersama kita lagi … “ ucap Eunhyuk oppa akhirnya. Deg ! apa maksudnya ??
“maksud oppa ?” tanyaku heran. Dadaku mulai campur aduk rasanya.
“Leeteuk tidak bisa menjagamu lagi, dia tidak bekerja dengan kita lagi, dia pergi ke Jepang … dan ..“
“sampai kapan ? dan untuk apa dia kesana ?” sahutku memotong ucapan Eunhyuk oppa, suaraku semakin meninggi.
“sampai kapannya aku tidak tau, mungkin dia tidak kembali dalam waktu singkat … “
“kaza mandilah .. “ ucap Eunhyuk oppa meninggalkanku. Dia tau aku ingin waktu untu menyendiri. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, tanpa terasa air mata yang aku tahan tadi mengalir.
“andwae … “ ucapku lirih membungkam mulutku menahan isak tangisku.
“kenapa kau tidak bilang denganku ??? “
*flashback end
“mianhae … tapi, sekarang aku menepati janjiku … “ jawabnya tersenyum senang. Ya dia benar, dia menepatinya … meskipun terlambat.
“Euncha .. “ panggilnya saat aku menikmati acara. Aku menoleh kearahnya tanpa bersuara, hanya gerak mata saja.
“YEEE !!! “ pekik semua orang yang ternyata masuk kedalam inti acara. Eunhyuk oppa menyematkan cincin pada Ami eonni.
“Euncha .. “ panggilnya lagi ditengah sorakkan orang – orang. Aku kembali menatapnya sambil meneguk peach sampange-ku. Tiba – tiba dia memegang kedua pipiku, aku menatapnya bingung.
“aku ingin mengatakannya padamu … “ ucapnya dan itu semakin membuatku bingung.
“mworago?” tanyaku.
“kau bisa merasakannya?” tanyanya melihat mataku lekat. Tatapan itu … tatapan saat dirumah sakit, dan saat dia mengatakannya pertama kali perasaannya padaku…
“aku ingin mengulanginya … aku harap aku tidak terlambat“ ucapnya lagi, mendekatkan wajahnya padaku.
“Lee Euncha … saranghaeyo yeongwonhi saranghae… “ ucapnya tulus, kenangan masa itu tiba – tiba muncul kembali. Setelah kami berpisah selama beberapa tahun, dan sekarang … dia mengungkapkannya…lagi. Aku melihatnya tidak percaya.
“yeongwonhi Euncha … “
“..aku hanya ingin kau …”
“biarkan aku yang menjawabnya … “ sahutku memenggang kedua pipinya. Kutatap wajahnya da matanya yang tajam itu.
“Park Jung Soo … jeongmal .. nado saranghae … “ akhirnya aku mengucapkannya, setelah menyimpannya beberapa tahun. Dan selama itu pula perasaanku tidak berubah padanya. Aku mencintainya … Ne, Park Jung Soo Saranghamnida ..
Teuki melihatku tidak percaya, dia sangat shock. Aku tersenyum melihat wajahnya yang sangat menggemaskan itu. Senyuman terulas dibibirnya, dan matanya benar-benar seakan tidak percaya dengan ucapanku. Aku hanya mengangguk meyakinkannya, bahwa aku benar – benar mencintainya …
Tangannya mencari sesuatu didalam jasnya, setelah menemukannya tiba – tiba dia berlutut didepannku.
“… “ Teuki membuka kotak kecil berwarna putih silver, dan berisi … sebuah cincin yang sangat cantik.
“Lee Euncha … Nawa gyuhrhonhaejullae? “ tanya Teuki seraya menggenggam tanganku. Mataku sangat panas. Aku tidak bisa berkata apa – apa lagi …
“hana .. dul … set … “ sorak orang – orang yang aku tak tau kenapa, mungkin Eunhyuk oppa melakukan sesuatu disana. Teuki masih menunggu jawaban dariku. Tanpa pikir panjang aku langsung mengangguk pasti.
Teuki bangkit dan berdiri dihadapanku sekarang, dia tersenyum puas. Tiba – tiba tangannya memegang daguku dan mendekatkan wajahnya padaku. Secara nurani, mataku terpejam. Dalam hitungan detik bibir Teuki menyentuh bibirku lembut. Serentak semua orang didalam ruangan bersorak. Kami berciuman ditengah hiruk pikuk pesta Eunhyuk oppa.
Teuki memegang tengkukku dan makin memperdalam ciumannya. Membuatku shock. Mataku langsung terbelalak. Teuki mulai menggigit bibir bawahku lembut, mataku semakin membulat menerima perlakuannya. Kupukul dadanya, tapi teuki terus menciumku bahkan lebih dalam lagi.
“Teuki-ah …” dorongku dan berhasil melepaskan Teuki. Wajahku memerah dan sibuk mengatur nafas.
“hahahahah … “ kekehnya pelan sambil mengatur nafas.
“wajahmu … bodoh!!” umpatnya. Aish !! dia sama saja seperti dulu, Teuki-ah !!!
No comments:
Post a Comment