Thursday, July 7, 2011

Once While Living Part 4

Once while living

main cast :

Park Jung Soo as Leeteuk

Kim Ki Bum as Ki Bum


genre : Romance, Sadness






~~~



Hari ini hari yang ditunggu oleh Euncha, dia terlihat lebih ceria dari biasanya. Aku juga ikut senang kalo melihatnya seperti ini. Aku mengemasi barang-barang Euncha selama 1 minggu dirumah sakit ini, dia kusuruh duduk saja ditempat tidurnya. Euncha tampak tidak sabar untuk pulang, dia duduk sambil memeluk boneka teddy bear yang kubawakan untuknya sambil menggoyang-goyangkan kakinya seperti anak kecil.



"Eonni, jaga dirimu baik - baik! Jaga kesehatanmu!! " pesan Soora saat mengantar kami kedepan looby rumah sakit. Euncha kubantu berdiri dari kursi rodanya dan menuntunnya masuk kedalam mobil.

"Ne, aljhana ~ " jawabnya sambil tersenyum manis pada Soora.

"Jangan terlalu lelah noona, minum obatmu secara teratur " pesan Ki Bum yang juga ikut mengantar kami.

"Ne, modu gamsa ~" jawab Euncha lagi dengan seulas senyuman manisnya.

"Chagi, kita pulang sekarang? " tanyaku dan dibalas dengan anggukan olehnya.

"Arraseo, Ki Bum, Soora kami pulang dulu. Gomapta, sudah merawatku " pamit Euncha.

"Itu sudah menjadi tugasku sebagai dongsaeng-mu dan seorang dokter, noona " balas Ki Bum ramah sambil membenarkan kaca matanya.

"Geudae, kami pulang dulu. Annyeong~ " pamitku pada mereka, Euncha melambaikan tangannya pada mereka dari kaca jendela mobil. Ku lajukan mobilku perlahan, dan meninggalkan rumah sakit.



"Tidur saja, kau masih terlihat lelah " suruhku saat diperjalanan. Wajahnya masih terlihat pucat, maklum saja ia baru keluar dari rumah sakit. Jadi fisiknya masih belum pulih betul.

"Gwechana oppa, aku ingin menemanimu " jawabnya sambil tersenyum manis padaku. Ini senyuman yang belum pernah kudapat sebelumnya, dia terseyum padaku memperlihatkan lesung manis dipipinya dan apa tadi yang diucapkannya 'menemaniku' ? Ah, apa ini awal dari hubungan kami yang baru?

"Geudae, tapi kalo kau lelah tidur saja " suruhku sambil merapikan rambut panjang coklatnya yang sdikit berantakan. Euncha hanya mengangguk, sambil terus memeluk bonekannya.




~~~


"Rumah, machimnae ... " gumamnya saat kami sampai dirumah minimalis yang masih ada sedikit unsur tradisional rumah korea. Sederhana, tapi nyaman.

"Ayo kita masuk, nanti kau kedinginan " suruhkusekarang sedang musim gugur. Jadi udaranya sedikit dingin. Euncha hanya menurut dan masuk ke dalam rumah hangat kami.

"Annyeong~ " sapanya sambil melepas sepatunya dan mengganti sandal untuk alas kakinya yang biasa kami taruh didepan pintu masuk.

"hmm ... 1 minggu aku tidak dirumah, rasanya sudah asing saja " ucapnya sambil melihat sekeliling rumah. Aku tersenyum saja melihatnya seperti itu.

"Lebih asing lagi, jika aku tidak pernah menjengukmu dan tiba-tiba aku menampakkan diriku " celetukku yang sengaja menggodanya, Euncha langsung melihat kearahku.

"oppa ..." dengusnya sebal. Menggemaskan.

"Kaza, kau istirahat! Nanti aku buatkan kau tteopoki kesukaanmu " suruhku padanya.

"kesukaanku? kau tau dari mana? " tanyanya bingung.

"Hei chagiya, kau pikir 1 tahun itu aku hanya berdiam diri dan bekerja? Aku juga memperhatikanmu, dari apa yang kau suka dan apa yang kau tidak suka " jelasku mengacak rambutnya gemas.

"mianhae ... " gumamnya pelan. Wajahnya berubah menjadi murung, ku dekati dia.

"tidak ada yang perlu dimaafkan. Yang terpenting, kita bersama dan mengulangnya dari awal. Geuraeyo? " ucapku yang sedikit menunduk menatap wajahnya. Dan dibalas anggukkan kecil darinya. kami saling berdiam diri.

"Oppa .. " paggilnya.

"Ne, chagiya ? " jawabku sambil menunduk menatap matanya.

"Oppa ... Apa kau percaya padaku? " tanyanya tiba-tiba. Aku langsung mengangguk pasti.

"Tentu saja chagi " jawabku mantap. pertanyaan yang dilontarkannya sedikit aneh, jelas saja aku mempercayainya karena aku mencintainya.

"Oppa ... " panggilnya lagi.

"Keadaanmu masih belum stabil, jangan bertanya ynang bukan - bukan. Itu akan menguras pikiranmu. Sekarang ayo ku antar ke kamarmu dan istirahatlah " celotehku panjang lebar yang memutus perkataanya, aku tidak mau dia bertanya yang macam-macam lagi dan menyalahkan dirinya sendiri. Itu membuatnya terbebani.







Ku antar Euncha ke kamarnya yang letaknya dibelakang, dekat dengan halaman seperti taman rumah kami.



'Kriek~'



"Omoo!!! " pekiknya saat membuka pintu kamarnya. Euncha sangat terkejut melihat kamarnya yang sengaja kutata ulang dengan nuansa putih dan baby pink yang sangat manis. Warna favoritnya. Aku ingin memberikan kejutan padanya sebelum dia pulang, jadi kutata kamarnya semalaman dan aku izin padanya kalo aku sedang lembur dikantor.

"kau suka?" tanyaku padanya saat melihatnya masih terpaku dengan apa yang dilihatnya. Euncha tidak bergeming, dia hanya diam.

"Aku harap ini membuatmu nyaman chagi " ucapku lagi, Euncha mendongakkan kepalanya kebelakang, menghadapku dengan mata keabu-abuannya yang merah dan berair.

"Aigo, kau menangis chagi? Ah, mianhae .. kau tidak suka ya?? Mianhae jeongmal nanti akan kuperbaiki seperti se... " ucapku tercekat saat tiba - tiba Euncha memelukku erat.

"Kau tidak adil ... " gumamnya pelan ditengah isakkannya. Euncha makin mempererat pelukkannya. Hangat.

"Kau tidak adil padaku oppa ... beri aku kesempatan membahagiakanmu " isaknya lagi sambil mengguncang tubuhku pelan. Aku tersenyum dan mempererat pelukkannya.

"kumohon oppa, beri aku kesempatan " isakknya lagi. Tangisnya makin pecah.

"kau sudah ada disampingku itu sudah membuatku tenang dan bahagia chagi " bisikku lembut padanya. Tapi tangisannya semakin kencang dan pelukkanya semakin erat.

"shssshh ... uljimma, aku benci melihatmu menangis seperti ini " ucapku menenangkannya, kumohon berhentilah .. aku tidak bisa mendengar tangisannya. Euncha terus menangis dipelukkanku, semakin keras tangisannya semakin kupererat pelukankku.




"Oppa ... " panggilnya pelan sambil melepas pelukan kami. Setelah dirasa cukup tenang, Euncha menatapku dengan matanya yang bulat. Tiba-tiba ia sedikit berjinjit ke arahku dan mengenggam kedua tanganku kuat, wajah kami sangat dekat, deru nafasnya yang tidak beraturan karena menangis dapat kurasakan. Euncha berhenti saat wajah kami sudah sangat dekat. Jantungku berdebar tidak beraturan, melihat wajah aegyonya sedekat ini.


"Oppa ... " panggilnya pelan dengan suara sedikit parau.


"percayalah oppa ... aku akan membahagiakanmu " bisiknya tepat diwajahku dan dengan hitungan detik, tiba - tiba bibir mungilnya yang berwarna kemerahan itu mengecup bibirku lembut. Jantungku seketika berhenti, seperti ada ledakan didadaku, darahku juga sepertinya semakin cepat naik keubun - ubun dan pupil mataku membesar.




Kami berciuman ???




Ku rasakan genggaman tangannya menguat ditanganku dan tangan kirinya melepas tanganku, ganti mencengkram bajuku, sepertinya dia mulai kesusahan karna tubuhku lebih tinggi darinya. Tapi entah kenapa tiba-tiba secara naluri tangan kiriku yang bebas memeluk pinggang mungilnya dan aku menundukkan tubuhku hingga sepadan dengan tinggi badannya. Tangannya mulai naik dan menyentuh pipiku lembut, bibirnya mengecup bibir atasku perlahan, sedangkan bibir bawahku memangut bibir bawahnya lembut.



Selama 1 tahun ini, aku sama sekali sekali belum pernah menyentuhnya dan sekarang, kami berciuman ?? Yang artinya, kami selangkah lebih maju? Aku benar - benar tidak ingin melepaskannya.



Cukup lama kami berciuman, Euncha melepas ciuman kami. Lalu menatapku lekat, seulas senyuman lembut dari bibir strawberrynya yang kemerahan seperti buah strawberry.


"Gomawo " ucapnya pelan, sambil membelai pipiku lembut. Ku genggam tangannya yang mengusap pipiku.

"Saranghae " bisikku pelan tersenyum manis padanya. Aku benar - benar ingin memeluk tubuh mungilnya erat dan tidak ingin melepaskannya.


"Oppa, aku lelah " ucapnya membuyarkan pikiranku. Aku segera menyuruhnya masuk ke dlaam kamarnya.

"Istirahatlah " suruhku saat Euncha sudah berbaring ditempat tidurnya dan mendaratkan bibirku dikeningnya yang terhalang poninya,

"Mm ne, oppa ... " jawabnya pelan, matanya juga kulihat sudah sangat berat untuk terbuka, Kuputuskan untuk meninggalkannya saat ia tertidur, membiarkannya beristirahat.

"oppa " panggilnya yang tiba-tiba menahan tanganku dengan tangannya yang menyembul dari balik sleimut tebalnya.

"Ne?" tanyaku

"kau mau kemana ?" ia balik bertanya. Aku duduk di tepi ranjangnya dan menatapnya lembut.

"Aku mau ke kamarku chagi, aku juga mau istirahat. tidurlah " jawabku lembut padanya dan menyuruhnya untuk cepat tidur. Selama ini kami memang tidak tinggal dalam 1 kamar, aku tidur dikamar tamu. Ini kesepakatan kamu, meskipun sangat berat saat pertama menyetujuinya.


Euncha terus menahan tanganku. Baiklah, mungkin dia ingin aku menunggunya sampai ia tertidur pulas. Haha tidak kusangka ternyata istriku semanja ini.


"Geudae, aku disini samapi kau tertidur : ucapku sambil mengacak rambutnya gemas. Tapi Euncha menggeleng keras.

"waeyo ?" tanyaku bingung.

"Oppa kau tidur disini saja, wajahmu sangat lelah " jawabnya sambil mengusap pipiku lembut.

"gwechana chagi, kamarku tidak jauh. Aku masih ada tenaga " balasku semakin mengacak rambutnya gemas.

"sejak kapan kamarmu pindah tempat?" tanyanya. Aku mengernyitkan dahiku tanda bingung dengan pertanyaannya.

"omona, rupanya 1 minggu dirawat dirumah sakit, kau sudah benar-benar lupa dengan rumahmu?" tanyaku bingung.

"aniyo, aku seriu oppa! " sergahnya cepat.

"lalu?"

"oppa berhenti bertingkah bodoh dan jangan terus menggodaku" renggeknya, aku semakin bingung dengan tingkahnya.

"aku tidak sedang bertingkah bodoh dan meng... "

"kita satu kamar, chagi !!! "jawabnya gemas dan langsung membalikkan badannya dan tidur membelakangiku, menyembunyikan semu merah dipipinya.

Apa yang dikatakannya barusan ?


Kami satu kamar ???


Dia membatalkan persetujuan???



Dan apa yang diucapkannya?? Dia memanggilku chagi ???



Omonaa, Park Jung Soo, kau benar-benar mendapatkan kebahagianmu !!!








TBC ~

No comments:

Post a Comment