Wednesday, July 18, 2012

Once While Living part 7

Once While Living part 7


cast :♥ Park Jung soo ♥ Ki Kibum   

genre : Romance , Sadness


3 minggu kemudian ...


  Cahaya matahari menerawang dari balik tirai putih yang membingkai jendela di kamar, aku merasa tubuhku sangat pegal sekali. Semlalam aku pulang larut malam, karena aku harus menyelesaikan tugas kantorku yang menumpuk dan harus mengumpulkannya besok pagi untuk bahan meeting. 

  Kuraba tempat tepat di sampingku, mencari apa yang aku inginkan. Tapi aku tidak menemukannya.




'SPLAASHHH!!'



Suara kran air  dari dalam kamar mandi terdengar nyaring di telingaku, hmm~ mungkin dia sedang mandi. Ku tegakkan  badanku sedikit bersandar pada dashboard ranjang kayuku.

"uhuukk ...uhuukk..hukkgg~" pekik seseorang tiba-tiba di dalam kamar mandi, terdengar samar-samar. Karena suara kran air  terdengar lebih keras, tapi aku masih bisa mendengar suara itu dengan jelas.

"uhukk...uhuukk...huueekk~!" pekiknya lagi dan terdengar lebih keras. Perasaanku menjadi tidak tenang. Apa terjadi sesuatu padanya???

'Dok..dok..dok!!!'


"Chagiya, gwechanayo??? " tanyaku dari luar memastikan tidak terjadi apa-apa padanya. Tidak ada jawaban, hanya suara kran air yang bergemericik didalam sana.

"Chagiya?? Gwechanayoo???" tanyaku lagi sedikit keras, tapi tidak ada jawaban lagi. Perasaanku semakin tidak tenang. Panik.

"uhukk ...huuekk...uhukkk" pekiknya dari dalam lagi.

"Chagiya ... kumohon, buka pintunya ... aku ingin masuk. Apa yang terjadi??" seruku sambil menggedor  pintu putih di hadapanku dengan keras. Kali ini suara kran air itu berhenti, sepertinya ia mematikannya. 

Tak berapa lama kemudian, knop pintu kamar mandi itu terputar. Seorang yeoja manis berambut coklat  panjang tergerai dengan pajama pink-nya keluar. Wajahnya sedikit pucat, hidungnya juga memerah.


"Chagi, gwechanayo?? Apa kau sakit??? Bagaimana kalo kita ke rumah sakit saja sekarang???" ajakku padanya.

"haa~ aniyo oppa, gwechanayo~ aku baik-baik saja ... kau tidak perlu mengkhawatirkanku~" jawabnya tersenyum lemah.

"Apa yang kau rasakan sekarang?? Sakit?? Mual??? Nyeri?? Atau apa??? Di bagian mana???" tanyaku berentet karena panik. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

"Aku merasa sedikit mual oppa, mungkin hanya masuk angin biasa. Sebentar lagi juga membaik, tenanglah oppa~" jawabnya menenangkanku.

"Geudae, kalo begitu sekarang kau istirahat saja~ " suruhku yang langsung membopong tubuh mungilnya, dia sedikit membrontak.

"Oppa~ turunkan aku!! Jebaallll~~" serunya saat ku gendong, tapi aku tidak memperdulikan omelannya.



'Hup!'



  Ku rebahkan tubuhnya perlahan ke ranjang, Euncha mengerucutkan bibirnya padaku dan menatapku kesal. Lalu dia turun dari tempat tidurnya lagi.

"Kau mau kemana, chagi??" seruku pelan.

"membuatkan sarapan untukmu, oppa~ Cepat pergi mandi, kau bisa terlambat" suruhnya mendorong tubuhku ke arah pintu kamar mandi.

"Kajja oppaaa~ nanti kau bisa terlambat, kau ada meeting kan hari ini~ " suruhnya lagi.

"Arra...arra... Aku mandi, tapi kau ...." ucapku terputus begitu saja tiba-tiba Euncha lari mendahuluiku masuk ke dalam kamar mandi dan menuju wastafel, ia menundukkan kepalanya.

"huueekk ...uuuhhhgg...uhhuueek...." pekiknya seperti berusaha mengeluarkan sesuatu yang menyangkut pada tenggorokannya. Ku dekati Euncha perlahan, dia masih berusaha mengeluarkannya, tapi sepertinya dia sangat kesusahan membuat wajahnya memerah.

"Chagi...." seruku mendekatinya perlahan. 

"uhuukkkk ...uhuuukkk...hhh...huueekkk~" pekiknya lagi dan aku rasa itu sangat sakit terlihat dari wajahnya. Aku tidak tega melihatnya seperti ini. Ku usap pelan dan kupijat tengkuknya, berusaha meringankan rasa mual di perutnya.

"Chagi ... lebih baik kau istirahat saja, hari ini kau tidak perlu ke tempat kursus untuk sementara, arra??" ucapku. Euncha menatapku dari pantulan cermin, wajahnya sangat merah ada sedikit bukir air mata d tepi mata kucingnya. Lalu ia berbalik mengahadapku dan menggeleng.

"aniyo oppa~" jawabnya serak.

"Kau sedang sakit, chagi. Wajahmu juga sangat pucat, bagaimana kalau terjadi apa-apa denganmu ???" tanyaku menghapus sisa-sisa air di pipinya.

"Gwechana oppa~ aku hanya sedikit mual. percayalah padaku, tidak akan terjadi apa-apa. Sebentar lagi mualnya juga akan hilang" jawabnya tersenyum manis padaku.

"Hajiman ...."

"Oppa~ jebal .... percayalah padaku. Aku baik-baik saja ^ ^" ucapnya seraya mengusap pipiku lembut dan tersenyum padaku. Hangat. Wajahnya begitu teduh dengan bulir-bulir air di wajahnya. Oh tuhan~ aku tidak bisa berbuat apa-apa jika istriku seperti ini. Tanpa aku sadari dengan tatapan teduhnya, dengan mudahnya aku luluh.

"Geuraeyoo ...." jawabku mengangguk pelan. Euncha tersenyum senang.

"kajja, pergi mandi. Nanti kau bisa terlambat oppa~" ucapnya menepuk pipiku pelan lalu meninggalkanku di kamar mandi sendiri. Tapi ...


'chu~'


Tiba-tiba saja Euncha mencium bibirku cepat. Seketika tubuhku membeku, mataku terbelalak. Aku menatapnya tidak percaya.

"morning kiss~ ^^ kajja, cepat mandi~ aku tunggu untuk sarapan"  ucapnya riang lalu meninggalkanku yang masih diam membeku. Jantungku berdegub keras, wajahku sangat panas. Mungkin ini terlihat aneh, aku masih sering merasa gugup dan terkadang seperti ini saat Eun cha memberiku morning kiss.



~~~

Bunyi penggorengan dan bau masakan menyeruak di seluruh ruangan dapur. euncha tengah berdiri dengan celemek pink-soft-nya di depan penggorengan, memasak sesuatu un tukku seperti biasa. Aku benar-benar menginginkan saat pagiku bersama istriku seperti ini, morning kiss, senyuman hangatnya di pagi hari. dan masakannya penambah semangat kerjaku hari ini. Benar-benar tidak percaya, ini seperti mimpi.

"Tunggu sebentar oppa~ sebentar lagi masakannya sudah matang' ucapnya mengetahui aku datang dan memperhatikannya. Aku hanya tersenyum menatapnya yang masih berkutat dengan penggorengannya.


"Tarraa~ nasi goreng kimchi~ "serunya memberikan hasil masakannya. Terlihat enak dan baunya  menggugah selera makanku.




Setelah mengabiskan sarapanku, aku bersiap untuk pergi ke kantor. Meskipun sedikit enggan karena Euncha masih terlihat pucat. Aku tidak ingin meninggalkannya sendiri.

"Aku berangkat dulu, chagi. Ingat, kalau terjadi apa-apa padamu cepat telpon aku. Arra??" suruhku dan dia hanya mengangguk paham. Sebelum berangkat, kudaratkan satu kecupan hangat di keningnya yang tertutup poni.

"Jalga oppaaa~ "uacpnya sambil melambaikan tanganya saat aku masuk ke dalam mobil putihku. Ku tancapkan gas menuju kantorku, karna rapat sebentar lagi di mulai. 







'Ring ....RIng ....Ring.....'


"Yoboseo~? Gwechanayo chagi???" tanyaku saat mengetahui Euncha yang menelponku. Apa terjaid sesuatu padanya???

"Mian tuan Park, Aku Seung Ah .... " jawab penelpon di sebrang sana. Seung Ah??? Seung Ah .... Ahh tetangga kamu, ada apa dia menelponku?? Dan tunggu dulu ... kenapa dia menggunakan telpon Euncha?? Apa dia sedang bersama euncha???

"Ah ne,waeyo??" tanyaku penasaran.

"Tuan Park apa kau bisa pulang sekarang ... Nyonya Park ..." serunya panik. Aku semakin khawatir terjadi sesuatu pada Euncha.

"Waeyo?? Apa yang terjadi pada Euncha??" tanyaku panik.

"Aku menemukannya pingsan di depan rumah anda, ppali tuan Park!!" serunya lagi. Deg!! Pingsan?? Omo    ....... apa yang terjadi dengannyaa??

"Tuan Park!!" seru Seung Ah di sebrang sana. Pikiranku masih berbelit belit memikirkan keadaan Euncha.

"Tuan Park!!" seru seorang yeoja tiba-tiba menganggetkanku. Aku mendongakkan kepala, seorang yeoja berdiri di hadapanku yang membawa tumpukan file-file. Sekertarisku. Apa aku tertidur? Sepertinya aku tertidur. Berarti tadi hanya mimipi??? 


"Ah ne??" ucapku setengah tersadar.

"tuan, direktur memanggilmu, sebentar lagi rapat di mulai" ucapnya.

"ne, aku segera kesana" jawabku. Setelah sekertarisku pergi, ku ambil handphone putih di saku jasku. Tidak ada panggilan masuk dari Euncha? 

"Hmmm...syukurlahg ternyata itu hanya mimpi saja. Haaa~ park jung soo kau terlalu mengkhawatirkannya." gumamuku lega. tapi tetap saja aku masih mengkhawatirkan keadaannya. Ku tekan nomor 5 pada speed dialku.

"Yoboseo?~" sapa seorang yeoja di seberang sana. Aku sangat mengenal suaranya. Soo Ra.

"Soo Ra, apa kau ada shift pagi ini??" tanyaku pada dongsaengku.

"Ne~ aku sedang shift pagi, oppa. Waeyo?? " tanyanya.

"hmmm aniyoo~ sebenarnya aku ingin meminta bantuanmu. Tapi kau sedang ada shift pagi~" jawbaku sedikit kecewa.

"memangnya ada apa, oppa?? " tanyanya penasaran.

"aku ingin kau  menjaga Euncha hari ini, dia sedikit tidak enak badan. Tadi pagi dia mengeluh  mual. Aku sangat mengkhawatirkannya, aku tidak bisa pulang cepat hari ini. Sepertinya aku akan lembur, kau bisa menjaganya???" tanyaku.

"Ah~ tentu saja oppaa~~" jawabnya semangat.

"tapi kau sedang ada shift pagi??" 

"Ahh~ gwechanaa. Aku bisa menjaga Euncha eonni hari ini. Lagi pula hari ini aku tidak begitu banyak pekerjaan oppa~" jawabnya antusias.

"jinjja??? Jadi kau bisa menjaganya???"

"nee oppaaaa~"

"Aigooo~ gomawoyooo chagiyaaaa" seruku manja.

"Jangan panggil aku dengan nada seperti itu! menjijikkan!! " pekiknya kesal. Aku hanya terkekeh pelan.

"hahahha geudae, Jaga Euncha baik-baik. Aku harus pergi rapat sekarang. Jalga~" ucapku.

"Ne oppa~ tenanglah. Jalga~" ucapnya dan ku tutup telponku. Perasaanku sudah lebih tenang, aku pun pergi ke ruang rapat.



♥ Euncha POV 


"Euncha .. !! Ada yang mencarimu ~" seru Minna saat aku  sedang melatih murid-muridku menari balet.

"Mwo?? Nugu??" tanyaku penasaran. Seorang yeoja berambut pendek sebahu melambaikan tangannya di sebelah Minna dan tersenyum padaku. Soo Ra.

"Soo Ra??" pekikku dalam hati. Tumben sekali dia kemari??

"Tunggu sebentar ya~ songsanim sedang ada tamu. Kalian berlatih seperti yang songsaenim ajarkan tadi, arra??" suruhku pada murid-muridku. Mereka mengiyakan dengan keras. Anak-anak yang penuh semangat.



"Soo Ra, tumben sekali kau kemari?? Mworagoo??" tanyaku penasaran. Dia tersenyum memperlihatkan lesung pipi yang mirip dengan Jung Soo.

"...aaa~ pasti Jung Soo yang menelponmu dan menyuruhmu kemari??" tebakku. Dan benar saja, Soo Ra mengangguk mantap, membenarkan pernyataanku.

"Jung Soo oppa mengkhawatirkamu, eonni~ Hari ini dia lembur, jadi aku kemari menjagamu~" jelas kedatangannya.

"Aku merasa seperti anak kecil" gerutuku pelan. Soo Ra terkekeh mendengarnya.

"Hahah aniyo, beginilah Jung Soo oppa. Dia akan melakukan appapun untuk orang yang di cintainya. Kau lihat kan eonni, betapa besar cintanya untukmu~" serunya menggodaku.

"berhentilah menggodaku!!" pekikku kesal dengan sedikit semburat merah di pipiku. Benar saja ucapannya membuatku tersipu malu.

"Ohya, aku sebentar lagi selesai. Kau mau masuk??" tawarku. Dia mengangguk.





"Eonni, Jung Soo oppa bilang kau sedang sakit. Apa yang kau rasakan??" tanyanya saat kami sudah di rumah dan duduk santai di ruang keluarga.

"hhm~ ne, akhir-akhir ini tubuhku sangat lemas. Aku merasa mual yang sangat berat" jawabku sambil menaruh 2 cangkir teh hijau hangat, karena cuaca di luar sangat dingin.

"Apa ...terjadi lagi??" tanyanya wajahnya berubah khawatir. Aku hanya menggeleng.

"Ani, rasa mual yang aku rasakan sangat berbeda. Hidungku sangat sensitif, terkadang saat Jung Soo menyemprotkan parfume rasa mual itu muncul secara tiba-tiba. Padahal aku sangat suka dengan parfume yang di gunakannya. Nafsu makanku juga begitu, sangat meningkat. Euntahlah aku rasa berat badanku mulai naik. hahhaha" tawaku menjelaskan panjang lebar.

"mmm... eonii ..." ucapnya menggantung. Soo Ra menatapku serius.

"Ne??"

"Eonni, mianhae mungkin aku lancang ... " ucapnya lagi.

"gwechana katakan saja~"

"Eonni, apa  kau ...apa kau melakukannya dengan Jung Soo oppa?? Aaa...aniyo, maksudku apa sebelum ini kau melakukan ..." tanyanya sambil mengisyaratkan sesuatu dengan membuat V-sign dengan kedua tanganya dan menaik turunkannya. Aku hanya mengerjapkan mata, jantungku berdegup kencang. Dengan polos aku mengangguk. Aish, sejujurnya ini sangat memalukan saat Soo Ra menanyakan tentang hal ini.

"w..waeyoo??" tanyaku gugup.

"Apa ..kau sudah 'datang' bulan ini??" tanyanya lagi. Aku berpikir sejenak. Mataku tertuju pada flip kalendar di dekat TV dan menghitung dengan jari ku.

"Aigoo ... aku tidak menyadarinya, sudah 3 minggu ini aku telat" gumamku terkejut.

"AYAA!!!!!" pekiknya tiba-tiba mengejutkanku.

"Eonni tunggu sebentar .... aku punya sesuatu.... Aku harap masih ada" ucapnya setengah berteriak sambil mengobrak-abrik isi tasnya. Aku hanya menatapnya bingung.

"Dapat!!" pekiknya setelah mendapatkan sesuatu yang dia cari.

"eonni, cepat kau ke kamar mandi, pakai ini ... setelah itu berikan hasilnya padaku" jelasnya, ia memberiku sebuah bendah kecil berbentuh oval berwarna putih dan pink.

"Soo Ra .. ini bukannya ..." ucapku menggantung menatap Soo Ra. Soo Ra langsung mengangguk.

"Kita coba, apa dugaanku benar" ucapnya antusias dan langsung menyuruhku masuk ke dalam kamar mandi. Mungkin adsa benarnya perkiraan Soo Ra, tanda-tandanya juga begitu jelas. Aku harap ini benar.

Ku gunakan barang yang di berikan Soo Ra padaku. Cukup berdebar juga aku menunggu hasilnya. Satu lekukkan pink muncul, sebuah mata. Jantungku semakin berdegup tidak terkendali.




"Otte?? Otte???" tanya Soo Ra penasaran saat aku keluar dari kamar mandi. Aku menghela nafas panjang.

"wae???" tanyanya bingung melihat ekspresiku. Ku berikan benda itu padanya. Soo Ramengambilnya dan melihatnya dengan seksama.

"Eonni ...." panggilnya pelan, Aku menatapnya perlahan.




"EONNI CHUKKAEYOOOO!!!!" teriaknya keras

"Kyaaaaaa!!!! aku akan menjadi ahjumma!!! omonaaa!!!" teriaknya senang dan langsung memelukku erat. Aku juga ikut senang sangat sangat senang!! Hasil test tadi membentuk sebuah senyuman, yang itu artinya ... aku positif!

"Omoo!!! cepat cepat, telpon Jung Soo oppa, aku rasa dia pasti akan segera kemari dan memelukmu erat!!" seruknya kegirangan sambil meroggoh kantung dressnya, mengambil hanphone flip putihnya Segera ku ambil handphonenya.

"mwo? waeyo??" tanyanya heran.

"Biar aku saja yang memberitaunya nanti" jawabku tersenyum padanya. Soo Ra ikut tersenyum dan memelukku erat.

"Chukkaeyoo eonniii!!" serunya lagi sambil memelukku. Terimaksih tuhan, kau mengabulkan permintaanku. Terimakasih .... aku akan menjaganya. Pasti!



                                                                                    ~~~

Sedari tadi aku menunggunya pulang kerja, jam putih di ruangan menunjukkan jam 12 AM. Rasa kantuk mulai menyerang, Soo Ra sedari tadi sudah pulang. Mmm..... sebenarnya aku sangat gugup, bagaimana mengatakannya pada Jung Soo tentang ini. Apa dia sudah siap menerimanya?? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksinya.

Tiba-tiba suara derum mesin mobil halus terdengar di luar. Suara mobil Jung Soo. Rupanya ia sudah pulang.  Aku beranjak dari sofa, dan membukakan pintu untuknya.


"Chagiya??" serunya terkejut saat dia mengetahui aku yang membukakan pintu. Aku hanya tersenyum. Jung Soo terlihat lelah, dasi yang semula rapi, kini sudah mulai kendur, bahkan bisa dibilang tidak berbentuk dasi lagi.


"Kenapa kau belum tidur??  Apa kau menungguku??" tanyanya sambil mengelus rambutku lembut. Aku hanya mengangguk. Ku ambil jas dan tas yang ia bawa.


"Ini sudah larut malam chagi, kau tidak perlu menungguku~ Ohya bagaimana keadaanmu?? Apa sudah membaik??" tanyanya perhatian.


"seperti yang aku bilang tadi, aku baik-baik saja oppa~" jawabku menaruh tas dan jasnya di sofa dekatku.


Syukurlah~ Geudae, kajja cepat pergi tidur" suruhnya mengacak rambutku pelan.


"Shirro~" sergahku. Dia menatapku bingung.


"Ohya oppa~ apa kau sudah makan???" tanyaku padanya. Jung Soo menggeleng polos.


"Aku panaskan sup ayam ginseng yang tadi kubeli ya oppa~ tapi selagi itu, kau pergi mandi. Sebentar aku siapkan air hangat untukmu" ucapku yang langsung pergi ke lantai atas, menyiapkan air hangat untuk suamiku.


"Air-nya sudah siap oppa~" ucapku saat aku sudah menyiapkan air hangat untuknya.


"Kau ini~ gomawo chagiya ^^" ucapnya tersenyum sambil mengecup puncak kepalaku hangat. Dan Jung Soo pun  pergi ke lantai atas.



"Oppa~ mmm ... ada yang ingin aku bicarakan padamu... tapi sebelumnya, aku harap kau mengerti dengan penjelasanku" ucapku memulainya saat Jung Soo sudah menyelesaikan makannya dan kini kami sedang duduk di ruang keluarga.

"Ne, katakan saja chagi ...." jawabnya menatapku. Aku semakin gugup.

"Begini ... mmm .. aku ingin meminta ijin padamu. Apa kau setuju ...kalau ada seseorang yang akan tinggal di rumah kita??" tanyaku gugup. Jung Soo menatapku heran.

"Mwo??"

"Tinggal disini, bersama kita. Ada seseorang yang akan tinggal di rumah kita, apa ... kau mengijinkannya??" 

"Nugu??"

"Nanti kau pasti akan tau, hajiman ..... aku juga tidak tau pasti berapa lama dia akan tinggal, Ottheoke?? Apa kau mengijinkannya tinggal disini, oppa??" tanyaku gugup. Jung Soo menatapku serius, alisnya yang tebal mengerut. Tanda bingung.


"Apa dia saudara kita??" tanyanya.

"hmm ... yaaa bisa dibilang seperti itu~" jawabku asal. Jung Soo semakin menatapku tajam. Suasana menjadi hening.

"Ahh~ aku rasa kau pasti bingung. Ini ...dia menintipkannya padaku, dia meminta maaf sebelumnya karena untuk saat ini dia tidak bisa bertemu denganmu langsung." ucapku mengeluarkan secarik amplop dari saku jaketku. Jung Soo menerimanya, masih dengan tatapan bingung ia membuka amplop itu.

Jung Soo membaca secarik kertas di dalam amplop itu, aku menunggu reaksi darinya. jantungku kembali berdebar keras. Matanya menyipit, dan sangat tajam memperhatikan setiap kata dalam surat itu. Jung Soo membuka amplop itu lagi dan mengambil sesuatu di dalamnya. Aku langsung menggenggam tanganku.

Tubuhku bergetar, dentuman jantungku tidak beraturan. Dia ....dia...Jung Soo mengambilnya ...


Hening, suasana menjadi hening. dadaku semakin tidak terkendali, Gugup, sangat sangat gugup. Aku hanya bisa menggit bibirku menunggu reaksinya.

Tiba-tiba terlihat sesuatu yang menetes dari matanya yang tajam. Menangis?? Kenapa Jung Soo menangis?? Apa dia tidak suka??? Apa dia belum siap menerimanya??

"Oppa ... mianhae ..." ucapku gemetar terdengar lirih. Kecewa, ya mungkin, Jung Soo belum siap menerima kehadirannya. Mungkin bukan saat yang tepat. 

Kini Jung Soo menatapku, wajahnya sangat merah, air matanya kembali menetes dari matanya. Dan tiba-tiba Jung Soo menarikku kedalam pelukkannya. Memelukku erat, sangat sangat erat.

"Gomawoo ....Gomawooyoo...Jeongmal gomwoo chagiyaa!!! Gomawoo ...gomawooyooo ...nae sarang" ucapnya parau di tengah pelukkannya. Rasanya tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata, dia ....Jung Soo menerimanya. Bahkan aku tidak menyangka Jung Soo akan menangis seperti ini.

"Gomawoo ...Gomawoo chagi ...Gomawoyooo ..." tidak henti-hentinya ia berterimakasi padaku. Tidak terasa air mataku juga ikut mengalir. Sekarang aku benar-benar merasa menjadi istri yang sempurna. Aku ... mengandung anak seorang Park Jung Soo. Pelukkan Jung Soo semakin erat, sampai-sampai aku terjatuh di sofa. tubuhnya yang besar menghimpitku.

"...." aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, pelukkan Jung Soo begitu hangat. Ku balas pelukkannya. Aku tidak ingin melepaskan pelukan ini.

"Apa kau menerimanya, oppa?? Dia memeinta ijin padamu~ untuk tinggal disini " tanyaku melepas pelukannya sesaat.  Jung Soo menatapku dalam, wajahnya kami sangat dekat. Senyuman indah itu tidak mau pergi dari bibir tipisnya, membuat lesung pipi di bibir kirinya semakin terlihat jelas. Aku mengusapnya pelan.

"Ne, aku menerimanya ... Aku sangat menerimanya! Dia akan tinggal bersama kita selamanya. Kita akan memiliki keluarga kecil yang bahagia ..." jawabnya lembut dengan suara beratnya. Selamanya .... Keluarga kecil ...


Air mataku kemabali turun, kata-kata itu .... en tah seketika dadaku sangat sesak,  sangat menyakitkan, mendengarnya mengatakan hal itu. Bukan .. bukan aku tidak ingin hidup bersamanya selamanya .. tapi ... maafkan aku Jung Soo, aku takut ...aku tidak bisa ...


"Gomawo oppaa..." ucapku pelan menyembunyikan perasaanku. Aku tidak ingin menghapus senyuman itu, aku tidak ingin melihatnya menangis. Aku hanya ingin melihat senyumannya, dan aku ingin kau mengantarku dengan senyuman itu Jung Soo suatu saat ini ...


"uljimmaa ...Uljimalayoo oppaa" seruku padanya memegang pipinya hangat padahal aku juga menangis. Air mataku tidak berhenti mengalir. 2 tahun sudah aku menunggunya, dan akhirnya ... kami kedatangan seorang malaikat kecil. Rasa senang dan takut bercampur menjadi satu.

"chagiya .... apa...apaa aku seorang ...appa?? Apa benar??" gumamnya parau, air matanya kembali menetes dan jatuh tepat di pipiku. hatiku sangat terenyuh melihatnya sampai seperti ini.

"Ne ....ne oppa, kau seorang appa sekarang" jawabku lembut dan tersenyum padanya. Jung Soo kembali mengeratkan pelukkannya, kurasakan tubuhnya bergetar hebat.

"Sebentar lagi seorang malaikat kecil memanggilku appa..." gumamnya lagi di tengah isakkannya. Aku hanya mengangguk dan air mataku terus mengalir. tanganku bergetar.

"Terimakasih ,,, terimakasih tuhan"

"Aku bingung, aku harus berkata apa .... Aku benar-benar bahagia, sangat-sanagt bahagia" ucapnya di tengah pelukan kamu.

" Na doo ... Aku juga sangat bahagia oppa~" ucapku pelan.

"Uljimaaayoo oppaa~" seruku padanya diiringi senyuman bahagia. Jung Soo menatapku dalam dengan matanya yang berbinar-binar karna air matanya. Senyuman yang sangat teduh.


"Gomawo ... chagiya, jeongmal Gomawo ..." ucapnya dengan suara berat dan mendaratkan bibirnya di keningku. Bisa kurasakan hembusan nafasnya yang hangat menyapu keningku, perlahan bibirnya turun menuju kelopak mataku dan mengecupnya lembut, kembali bibirnya turun menyusuri hidungku lalu mendaratkan bibirnya yang merah ke pipiku, lalu bibirnya kembali turun ke bibirku perlahan


"Oppa~" seruku pelan menghalangi bibirnya dari bibirku yang berjarak 1cm lagi dengan telapak tanganku. Dia terlihat bingung, Jung Soo sedikit mendongakkan badannya,

"kau tidak ingat??" dia tampak bingung

"Kita tidak berdua lagi ..." ucapku sambil mataku melirik ke arah bawah. Mengisyaratkan sesuatu padanya.

"hahahahha aigoo mianhaee ... aku terlalu senang, chagi. Ohya appa belum menyapamu, agi-ah~ " serunya melepaskan pelukannya dan sedikit menunduk, mendekatkan kepalanya di perutku yang masih sangat rata.

"agi-ah~ appa disini. Apa kau bisa mendengar appa?? " tanyanya polos. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya seperti anak kecil , ku elus rambut coklatnya yang sedikit basah karna dia baru saja mandi.

"Appa dan eomma sudah menunggumu sangaat lamaaaaa sekali dan akhirnya kau datang, appa jadi tidak sabar ingin bertemu denganmu agi-ah~ cepatlah tumbuh besar, jadilah anak yang pintar. Appa akan mengajakmu bermain~ " celotehnya. Sepertinya ia memiliki mainan baru. 


Gomawo Jung Soo ... kau mau menerimanya, 
Aku akan menjaga anak kita, aku akan mempertahankannya ... 
























No comments:

Post a Comment