Saturday, October 22, 2011

Once While Living Part 6


Once While Living

cast :

Park Jung Soo

Lee Donghae


genre : Romance, Sadness




~~~



"Anak-anak, kalian harus semangat ya !! Hwaiting !! " Seru Miina dibelakang panggung, sesaat sebelum pentas dimulai. Aku mendampingi Euncha yang hari sedang mempersiapkan mentalnya untuk tampil diatas panggung.


Hari ini ada pentas yang sengaja Euncha adakan agar orang tua murid-muridnya tahu seberapa jauh anak-anak mereka berlatih disini. Euncha meminta bantuanku untuk mengiringinya dan anak-anak didiknya dengan piano.

“Oppa, aku sangat gugup …. “ ucapnya pelan padaku. Aku memandangnya dan tersenyum lembut. Dia terlihat manis sekali hari ini, dengan baju balet bernuansa merpati.

“Kau pasti bisa chagi, aku percaya kau pasti sangat percaya diri … dan kau pasti akan menikmatinya “ ucapku memberinya semangat, meski aku sendiri sedikit gugup. Ini untuk pertama kalinya aku tampil diatas panggung dan memainkan alat musik.

“Euncha, sudah waktunya!! “ teriak Miina dibalik selambu berwarna merah maroon, Euncha memandangku dan aku membalasnya dengan anggukkan pasti.

“Anak-anak, Ayo, kalian harus tunjukkan kalo kalian terbaik. Appa dan Eomma kalian pasti akan sangat bangga pada kalian “ seru Euncha memeberi semangat pada murid-muridnya yang mengenakan kostum yang sama dengan Euncha, mereka terlihat seperti anak-anak merpati. Sangat menggemaskan.

Setelah memberi semangat, akhirnya Euncha dan murid-muridnya masuk kedalam panggung. Euncha sedikit member sambutan sebelum mereka tampil dan setelah terdengar suara tepuk tangan dari audience, Miina memberiku instruksi untuk memainkan piano putih didepanku. Jemariku mulai menekan tuts – tuts piano perlahan. Aku mencoba masuk kedalam alunan musik yang kumainkan.


Tampak Euncha disana dengan murid-murid yang lainnya menari seirama dengan music yang kumainkan, aku semakin bersemangat memainkan jemariku diatas tuts piano ini.

Euncha bergerak perlahan dan menuju tempatku, aku melihatnya tengah tersenyum lembut disela – sela tariannya. Sangat manis.

Akhirnya tarian pun selesai, Euncha, Miina dan murid-murid lainnya berdiri didepan panggung. Euncha menengok kearah belakang, dia menatapku dan mengangguk seolah menyuruhku untuk ikut maju kedepan. Kami berdiri didepan panggung yang tidak cukup besar ini.

“Kamsa hamnida ~ “ seru kami sambil membungkukkan badan. Dan disambut oleh tepuk tangan meriah dari penonton. Sekilas aku melihat Euncha yang tersenyum senang, karena pentas hari ini berhasil.


Author POV

“Yoogeun-ah, kau tidak menemui Eomma-mu?” tanya Euncha saat acara sudah selesai. Ia melihat Yoogeun yang tengah duduk sendiri dimeja rias, padahal teman-temannya yang lainnya sudah bersama orang tua mereka masing-masing.

“Eomma belum datang” jawabnya sedih.

“Ah sayang sekali, tapi Eomma-mu pasti bangga denganmu. Tadi kau menari sangat bagus “ puji Euncha sambil mengacak rambut Yoogeun lembut.

“Bagaimana kalo kita pulang bersama ? Kau mau Yoogeun-ah?” tanya Euncha yang langsung dijawab anggukan semangat dari Yoogeun dan senyum dipipi chubby-nya mengembang.

“Geudae~ ayo kita keluar ~~” ajak Euncha menggendong Yoogeun keluar dari ruangan yang biasa mereka gunakan untuk latihan yang kini berubah alih menjadi ruang ganti.

~~~

“Ternyata aku tidak salah lihat! Kau benar Park Jung Soo ??” seru namja berambut coklat didepannya.

“Ne ~ haha kenapa kau bisa ada disini ?” tanya Jung Soo.

“Aku ingin melihat anakku tampil hari ini “ jawab namja tampan itu.

“Aah~ jadi anakmu kursus disini? Lalu dimana anakmu sekarang, Donghae-ah?” tanya Jung Soo.

“Mollayo, istri-ku sedang mencarinya. Oya, dimana istrimu ?” tanya namja bernama Donghae itu.

“Mmm … mungkin sedang … “

“Appa!!! “ pekik seseorang yang suaranya sudah sangat dikenal Jung Soo, Jung Soo dan namja itu mencari asal suara itu.

“Appa~” panggilnya lagi.

“Yoogeun~ “ seru Donghae saat sudah menemukan si pemanggil yang ternyata adalah anaknya.

“Omona! Ana kappa, kau tadi hebat sekali !! “ puji namja itu pada anaknya yang sedang duduk nyaman digendongan seorang yeoja.

“Jadi ini anakmu?” tanya Jung Soo.

“Ne, ini anak laki-laki kesayanganku “ jawabnya bangga.

“Oya, kenalkan ini istriku.Chagi, kenalkan ini Donghae, teman kecilku dulu “ jelas Jung Soo memperkenalka namja itu pada yeoja disampingnya.

“Annyeong~ “ sapa Euncha ramah.

“Annyeong ~ jadi? Yeoja yang tadi menari dipanggung itu istrimu ?? Aigoo ~ kau beruntung sekali Jung Soo “ seru Donghae menepuk pundak Jung Soo. Euncha hanya tersenyum malu.

“Aigoo, ternyata anak Eomma ada disini “ pekik seoarang yeoja yang baru datang.

“Eomma~ “ panggil Yoogeun yang langsung berpindah alih kedekapan Eomma-nya.

“Kau kemana saja ?? Eomma mencarimu “ jelas yeoja itu.

“aku pikir Eomma tidak datang” jawab Yoogeun menggemaskan.

“Mana mungkin Eomma tidak melihat anak Eomma tampil di atas panggung ??” seru yeoja berambut panjang itu.

“Chagiya, kenalkan ini Jung Soo. Kau ingat-kan ?” tanya Donghae pada yeoja itu. Yeoja itu melihat Jung Soo sesaat.

“Aah~ Park Jung Soo. Ne, aku ingat. Annyeong ~” sapa yeoja itu ramah.

“Annyeong “ jawab Jung Soo.

“dan ini, kenalkan istri Jung Soo dan sekaligus guru anak kita “ jelas Donghae memperkenalkan Euncha pada istrinya. Euncha membungkuk dan tersenyum ramah.

“Annyeong~ Lee Euncha imnida “ ucap Euncha ramah.

“Annyeong~ Shin Rinrin imnida. Gomawo, kau sudah mendidik anakku ini. Pasti dia sangat merepotkan ya?” tanya Rinrin sambil mencubit pipi anaknya.

“hahaha aniyo, Yoogeun sangat pintar. Dia juga penurut” jawab Eucha mengacak rambut Yoogeun pelan dan diiringi senyuman menggemaskan dari Yoogeun.

“Geudae, Yoogeun ayo kita pulang “ ajak Donghae. Yoogeun menggeleng.

“waeyo agi-ah ?” tanya yeoja yang menggendongnya. ShinRin.

“aku ingin pulang dengan Euncha songsaenim “ jawab Yoogeun sambil mengulur-ulurkan tangannya pada Euncha, mengisyaratkan ia ingin digendong Euncha. Euncha menanggapinya dan menggendong Yoogeun.

“Yoogeun-ah, songsaenim pasti sedang sibuk “ ucap Donghae.

“biarkan saja, nanti aku akan mengantarnya kerumahmu dengan selamat “ ucap Jung Soo.

“Geudae, kami pamit dulu. Sebentar lagi aku mengantarnya check-up “ jelas Donghae sambil memegang pundak istrinya.

“Kau sakit, ShinRin-ah?” tanya Jung Soo. Yeoja berambut braid itu hanya tersenyum.

“Ani, ini jadwal kami melihat perkembangan dongsaeng Yoogeun “ jawab Donghae sambil memeluk pundak istrinya.

“Jadi? Aah~ chukka “ seru Jung Soo menepuk bahu Donghae. Donghae hanya tertawa.

“Kapan kau akan menyusul, Jung Soo ?” tanya ShinRin, Jung Soo dan Euncha serentak terkejut dan saling melihat satu sama lain.

“Aku rasa kalian .. sudah pantas menggendong seorang anak “ ucap Donghae tersenyum pada Euncha. Euncha merasa tidak enak hati dengan Jung Soo. Anak ? Memang seharusnya ditengah keluarga mereka ada seorang anak, terlebih lagi mereka sudah menikah selama 2 tahun. Tapi apa mereka tahu hubungan sebenarnya ‘baru’ saja dimulai.


Euncha POV

“Aku rasa kalian .. sudah pantas menggendong seorang anak “ ucap namja berambut coklat didepanku tersenyum. Anak? Aku melihat Jung Soo yang tersenyum menunduk malu. Aku tau Jung Soo sudah merindukan kehadiran seorang anak ditengah keluarga kami, bukan hanya dia tapi aku juga. Aku ingin melahirkan darah daging Jung Soo.

“Kami masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing, kami juga ingin yang terbaik untuk anak kami nanti. Jadi, tidak perlu terburu-buru” jelas Jung Soo tegas sambil mengacak rambut Yoogeun lembut.

“Oppa .. aku tahu kau berbohong “ ucapku dalam hati. Ucapannya memang terlihat benar, tapi aku rasa hatinya tidak berkata seperti itu.

“istri macam apa kau ini, Euncha?! Kau pernah berjanji akan membahagiakannya, tapi mana ??” gerutuku dalam hati, aku benar-benar merasa bersalah pada Jung Soo.

“hahaha Kau benar, geudaeyo, kami pergi dulu. Yoogeun-ah, appa-eomma pergi dulu, kau jangan menyusahkan Jung Soo dan Euncha songsaenim ya “ pamit Donghae sambil mencium kening Yoogeun.

“Agi-ah, kau tidak boleh nakal ya. Euncha, Jung Soo, aku titip anakku ya” pamit ShinRin pada kami.

“Jalga eomma – appa “ ucap Yoogeun sambil melambaikan tangannya.

“Oppa … “ panggilku pelan. Jung Soo menatapku lembut, aku semakin merasa bersalah padanya.

“Aku … Aku .. Mianhae oppa “ ucapku menunduk. Aku benar-benar mengutuk diriku sendiri saat ini. Inikah yang kau bilang ingin membahagiakannya, Euncha ?? Beginikah, huh ??

“Chagi, jangan dipikirkan. Pasti ada saatnya nanti “ jawab Jung Soo sambil membelai trambutku yang masih tersanggul rapi.

“hajiman … “

“Yoogeun-ah, kita mau kemana sekarang ?” tanya Jung Soo yang tiba-tiba mengambil alih Yoogeun dariku sebelum aku mengatakan sesuatu lagi.

“Lotte … Lotte ahjussi!! “ seru Yoogeun semangat.

“Geudae~ ayo kita berangkat!! “ seru Jung Soo. Oppa, aku selalu merasa bodoh setiap aku berada disampingmu …

“Chagiya ~ kaza “ ajaknya padaku. Aku menatapnya bersalah, tapi Jung Soo langsung menggapai tanganku. Dan mengangguk seolah mengajakku untuk pergi. Aku hanya mengangguk pelan.

~~~

Kamipun pergi ke LotteWorld, Yoogeun dan Jung Soo terlihat seperti sepasang ayah dan anak. Mereka terlihat bersenang-senang. Jung Soo mengajak Yoogeun bermain boom boom car, Yoogeun tertawa riang, begitupun juga Jung Soo. Aku jarang sekali melihatnya tertawa lepas seperti itu. Ya .. aku selalu membuatnya khawatir dan sedih.

Aku hanya duduk melihat mereka, aku mengurungkan niatku untuk ikut bermain dengan mereka. Karna tubuhku mendadak sedikit lemas dan nyeri dibagian hati.

“Ahh … “ rintihku pelan memegang perutku. Tolong … tolong janga disaat seperti ini.

Cepat-cepat aku mengambil obat yang ada didalam tasku dan segera meneguknya dengan botol air mineral yang kubawa.

“Yoogeun-ah, kau hebat sekali ~” seru Jung Soo yang menggendong Yoogeun dipundaknya menghampiriku.

“Chagiya, gwenchanayo?” tanya Jung Soo tiba-tiba mengagetkanku yang sedang meminum obatku.

“Aa gwechana oppa. Yoogeun apa kau senang ?” tanyaku pada Jung Soo yang sedikit merasa aneh dengan tingkahku.

“Ne, sangat senang!! “ serunya riang.”

"Geudae, ayo kita makan siang. Sudah waktunyta makan siang. Apa Yoogeun lapar?” tanyaku. Yoogeun mengangguk.

“kaza kita makan “ ajakku.

“Oppa ayo kita makan, pasti kau lelah seharian bermain “ lanjutku pada Jung Soo, Jung Soo hanya mengangguk dan beranjak dari duduknya.

“aaa~~ buka mulutmu, Yoogeun “ ucapku sambil melayangkan 1 suapan kemulut Yoogeun. Yoogeun dengan senangnya membuka mulut dan memakan makanannya dengan lahap.

“Yoogeun pintar” seruku sambil mengacak rambutnya pelan. Lagi-lagi aku merasakan sakit dibagian kiri perutku.

“Songsaenim, gwechanayo ?” tanya Yoogeun khawatir saat aku sedikit merintih. Jung Soo yang mendengar itu langsung menghampiriku.

“Gwechana chagiya, songsaenim baik-baik saja “ jawabku sambil mengelu pipinya.

“Chagiya, apa ada yang salah? Kau sakit?” tanya Jung Soo khawatir disampingku. Aku menatapnya, wajahnya terlihat cemas.

“gwechana oppa, tenanglah. Lanjutkan makan siangmu “ jawabku sambil tersenyum padanya. Aku tidak ingin dia tahu, aku tidak ingin membuatnya khawatir.

“kau yakin?” tanyanya yang masih tidak percaya. Ku pegang pipinya lembut.

“Gwechana oppa” jawabku sambil mengangguk dan menyuruhnya untuk makan lagi.

Euncha POV end


Tangannya yang lembut menyentuh pipiku, Euncha menyuruhku melanjutkan makan siangku. Jujur saja, aku tidak ingin melanjutkannya. Aku khawatir dengan keadaannya. Sedari tadi kuperhatikan gerak-geriknya sangat aneh. Wajahnya juga terlihat pucat. Apa dia kelelahan ?

“Songsaenim juga harus makan, aku suapi ya “ ucap Yoogeun sambil mengambil sesuap makanan, dan menyuapkannya pada Euncha.

“Hmm~ “ Euncha memakanya. Tiba-tiba raut wajahnya berubah, tapi ia tetap memakannya.

“Oppa, tolong jaga Yoogeun sebentar saja ya” ucapnya yang langsung bergegeas pergi. Aku hanya diam.

“Yoogeun, sebentar lagi kita pulang saja ya. Ajhussi akan mengantarmu, mianhae hari ini kita tidak bisa bermain banyak. Songsaenim sepertinya sedang sakit. Maafkan ahjussi, ya “ ucapku pada Yoogeun yang dibalas anggukan. Aku benar-benar khawatir dengan keadaan Euncha,

Selang beberapa menit Euncha kembali, wajahnya sedikit lebih segar. Tapi tetap saja aku mengkhawatirkannya.

“Songsaenim, aku ingin pulang. Aku mengantuk “ ucap Yoogeun sambil menggosok-gosok matanya digendonganku.

“hmm ? Oppa, aku benar-benar tidak apa-apa “ ucap Euncha melihat kearahku. Rupanya dia tahu aku yang menyuruh Yoogeun agar cepat pulang.

“Chagiya, wajahmu pucat. Aku takut terjadi apa-apa denganmu “ jawabku cemas.

“Aniyo, aku baik-baik saja “ tungkasnya yang langsung mengambil alih Yoogeun dariku. Dan mengajaknya pergi.

“Chagi~” panggilku, tapi ia tidak menggubrisku. Dia terus berjalan, aku mengikutinya dari belakang. Berusaha menyusul langkahnya.

“Chagiya!!” panggilku lagi, tiba-tiba tubuhnya sedikit limbung. Cepat-cepat kusangga tubuhnya sebelum ia terjatuh. Ku ambil alih Yoogeun, lalu membawanya kemobil.

“Aku benci padamu!!” ucapku tiba-tiba. Euncha menatapku terkejut dan bingung. Aku ingin marah, bukan karna aku membencinya, tapi aku hanya takut terjadi apa-apa padanya.

“Oppa “ panggilnya lirih. Aku tidak menatapnya sama sekali, aku masih focus menyetir. Sebenarnya aku tidak berniat mengucapkan kata-kata seperti itu, terurtama ini didepan anak kecil yang tidak pantas mendengar kata-kata sekasar itu.

Sesampainya dirumah Donghae, aku menggendong Yoogeun yang tengah tertidur. Sepertinya ia tertisur diperjalanan. Aku kasihan padanya padahal aku tahu Yoogeun masih ingin bermain, tapi sepertinya ia juga sangat sayang dengan Euncha. Setelah memulangkan Yoogeun, aku kembali ke mobilku dan kembali menyetir.

Ku lihat Euncha sekilas, ia juga tertidur.

“Mianhae chagi, aku sudah biccara sekasar itu padamu “ gumamku pelan memegang pipinya lembut. Basah, apa tadi ia menangis?

“Mianhae … “ gumamku lagi mendaratkan kecupan hangat dipuncak kepalanya dan menyetir kembali.

Setelah sampai dirumah, kubopong Euncha yang masih tertidur dimobil. Kuangkat pelan tubuh mungilnya, belum sempat aku mengangkatnya tiba-tiba tangannya memegang lenganku. Mencegahku.

“Oppa … “ panggilnya lirih dengan suara sedikit parau. Dia terbangun.

“Oppa, mianhae … “ ucapnya lagi, matanya yang belum terbuka sepenuhnya dipenuhi dengan air mata. Ku lepaskan tanganku dari tubuhnya dan menaruhnya kembali ketempatnya duduk. Aku sedikit berjongkok, duduk disampingnya.

“kau pantas membenciku , aku selalu menyusahkanmu … “ ucapnya lagi, Deg !! Aku semakin merasa bersalah telah mengucapkan kata-kata itu tadi.

“Mianhae .. aku masih belum pantas menjadi istri yang baik untukmu… Aniyo, aku tidak pantas …menjadi .. ” belum semoat ia melanjutkan kalimatnya, kukunci bibir merah peach-nya dengan bibirku. Euncha membelalakkan matanya, air matanya masih mengalir deras.

“mianhae .. aku membuatmu berkata seperti itu. Aku tidak bermaksud, aku hanya takut terjadi apa-apa denganmu, chagi. Aku mengkhawatirkanmu “ ucapku menghapus air matanya lembut.

“Aku tidak bisa melihatmu menderita, kesakitan, ataupun lainnya. Aku menyanyangimu chagiya. Jeongmal. Jangan pernah kau berpikir seperti itu lagi, jebal “ ucapku meminta padanya. Ia masih terisak.

“aku tidak pantas, .. sedikitpun membahagiakanmu aku tidak pernah., apalagi aku akan memberimu seorang anak “ ucapnya. Apa dia masih memikirkan perkataan Donghae? Oh tuhan, jahat sekali aku membebaninya dengan perkataanku tadi.

"Dengarkan aku … kau ada disampingku seperti ini saja sudah membuatku bahagia “ jawabku menggenggam tangannya sang mengarahkannya kedadaku.

“aku bodoh … aku bodoh “ ucapnya mengutuk dirinya sendiri.

“Chagiya, kau tidak bodoh … “ tungkasku, ku pegang pipinya hangat. Menatap mata bulat keabu-abuannya.

“jangan pernah mengatakan itu, aku akan marah padamu jika kau mengatakan itu lagi. Yakso?” ucapku menatap matanya dalam. Euncha mengangguk pelan.

“kaza, kau butuh istirahat, ayo kita kedalam “ ajakku yang langsung membopong tubuhnya keluar dari mobil.

“Oppa, aku bisa sendiri. Turunkan aku “ ucapnya.

“Aniyo, diam dan menurut padaku “ jawabku tegas. Euncha langsung terdiam.



Hup!


Kurebahkan tubuhnya perlahan diranjangnya, setelah itu kutarik selimut putih tebalnya dan menyelimuti tubuhnya.

“Istirahatlah chagi, kau pasti sangat lelah hari ini “ ucapku sambil mendaratkan 1 kecupan dikeningnya.

“Oppa~ “ panggilnya pelan, aku hanya menatapnya dan tersenyum. Euncha bangkit dari tidurnya dan duduk.

“ucapan Donghae tadi … aku “

“Yak!! Ayo kau butuh istirahat yang banyak “ selaku memotong ucapannya dan mendorong bahunya pelan menyuruhnya tidur.

“Oppa~” rengeknya mencegah tanganku. Sebenarnya aku tidak ingin membahas ini, tapi melihat matanya aku tidak bisa berbuat apa-apa. Euncha menghela nafas panjang.

“Oppa … aku “ ucapnya menggantung. Euncha mengalihkan pandangannya, ada sedikit semburat merah dipipinya.

“waeyo, chagi? Aku bilang …”

“Aku ingin mempunyai seorang bayi darimu “ ucpanya cepat menyela ucapanku. Aku hanya mengerjapkan mataku, sedikit kebingungan dengan ucapan yang dikeluarkan dari bibir mungilnya.

“Chagi~ bisakah kau pelankan ucapanmu? Kau bicara terlalu cepat” tanyaku lagi, aku masih sibuk mencerna kata-katanya.

“Park…Jung..Soo…Aku…ingin…mempunyai…seorang..bayi..darimu… darah dagingmu “ ucapnya sangat pelan. Aku menatapnya tidak percaya, sepertinya jantungku berhenti berdetak.

“Oppa~ berhenti menatapku seperti itu “ gerutunya mengalihkan pandangnnya. Apa ini mimpi?? Dia menginginkan seorang anak??? Dariku ???

“Chagi, aku tidak ingin kau terbebani dengan ucapan Donghae … “ tiba-tiba Euncha mengecup bibirku cepat, lalu tersenyum padaku.

“Aniyo oppa, aku rasa ini saatnya member cucu untuk eomma “ ucapnya


Euncha POV

Kukecup bibir merahnya cepat, sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Jung Soo terlihat terkejut dengan reaksiku. Aku tersenyum padanya.

“Aniyo oppa, aku rasa ini saatnya member cucu untuk eomma “ ucapku manatapnya matanya yang masih terbelalak shock. Dan aku berharap, aku bisa memberikannya sebelum aku meninggalkanmu .. oppa …

Seketika senyumam lebar terlukis dibibir Jung Soo, dan memelukku erat. Sangat erat, sampai-sampai badanku ikut terangkat.


“Gomawo chagiya .. Jeongmal gomawo. Saranghae…” bisiknya lembut. Aku hanya tesenyum. Nado oppa …



TBC

~mianhae if there are many typo :p, leave comment please ^^. oya ~ this is my last ff, I'll be hiatus for a week maybe. I promise i'll be back ^^, see ya ~

No comments:

Post a Comment