Once while living
Park Jung Soo as Leeteuk
genre : Romance, Sadness
~~~
"Annyeong~ " sapa Euncha saat ia masuk kedalam pada murid kursus baletnya. Euncha meneruskan tempat kursus balet milik ibunya ini, sebelum meninggal ibunya mewariskan tempat ini padanya. Lagipula Euncha juga sangat menyukai balet.
"Annyeooongg, Songsaenim!!! " seru anak-anak kecil yang menggemaskan riang berhamburan memeluk Euncha.
"Songsaenim, kemana saja??" tanya namja kecil berpipi chubby.
"Ne, Songsaenim kemana?? " tanya namja kecil berambut orange disampingnya.
"kata Miina Songsaenim, Songsaenim sedang sakit ya? " tanya yeoja kecil berambut buns lucu didepannya. Euncha direntetkan berbagai pertanyaan dari anak didiknya, Euncha hanya tersenyum. Sepertinya ia sangat dicintai oleh anak didiknya.
"bogoshipo, songsaenim~ " seru namja berpipi chubby itu lagi sambil memeluk Euncha dan diikuti murid lainnya. Sangat manis.
"hahaha, Ne nado bogoshipoyo ~ " jawab Euncha sambil membalas pelukkan mereka.
"Euncha, kau sudah masuk hari ini? Kenapa tidak mengambil cuti dulu?" tanya seorang yeoja tinggi dan berkaca mata yang baru datang.
"Ah Annyeong, tuan Park" sapanya saat melihatku sambil membungkukkan badan. Memberi salam.
"Annyeong, Miina "jawabku. Hari ini aku mengantarkan Euncha ketempat kursusnya, dan berhubung ini hari Sabtu jadi aku ingin mengantarnya ketempat ini dan ingin melihatnya mengajar.
"Gwechana, aku sudah sembuh. Lagi pula aku khawatir kau kewalahan mengurus mereka " jawab Euncha. Tempat kursus sederhana ini hanya memperkerjakan Euncha dan Miina saja.
"Tenang saja, anak-anak kesayanganmu ini sangat penurut. Benarkan, Yoogeun-ah??" tanya Miina memastikan pada namja kecil berpipi chubby itu. Yoogeun menjawab dengan anggukan mantap. Menggemaskan.
"Omo, Yoogeun pintar sekali " puji Euncha sambil mencubit pipi Yoogeun pelan.
"Aku juga membantu Miina Songsaenim " seru namja manis disamping Euncha.
"Ne, Jinyoung kau juga pintar " puji Euncha sambil mengacak gemas rambut namja kecil bernama Jinyoung itu. Euncha rupanya pintar mengambil hati anak kecil.
"Songsaenim, nuguseyo ?" tanya Yoogeun pada Euncha saat melihat ke arahku.
"Ah kenalkan. Oppa, kenalkan dirimu " suruh Euncha. Aku langsung duduk berlutut agar tubuhku sepadan dengannya.
"Annyeong, naneun Park Jung Soo imnida " ucapku memperkenalkan diri pada Yoogeun.
"Annyeong, naneun Lee Yoogeun imnida. Jung Soo ahjussi apa kau namja chingu Euncha songsaenim ?" tanyanya polos, aku tersenyum sambil melihat kearah Euncha yang juga ikut tersenyum malu.
"memangnya kenapa?" tanyaku penasaran.
"Euncha seongsaenim milikku. Aku berjanji pada songsaenim kalo aku besar nanti aku akan menikah dengannya " jawab Yoogeun polos, aku terkekeh mendengarnya. Anak sekecil ini berjanji untuk menikahinya ?? hahahah ... Yoogeun-ah, bukan kau saja yang mencintainya, aku juga sangat mencintainya.
"Yoogeun-ah~ " pekik Miina kesal dengan ucapan Yoogeun.
"Jeongmalyo ?" tanyaku penasaran.
"Ne, tentu saja. Nanti kalo aku sudah menjadi seorang namja seperti ahjussi, aku akan menikahi songsaenim." jawabnya mantap dan justru membuatku tersenyum. Aku menatap Euncha yang sedang menunduk, menahan tawa sekaligus semburat merah dipipinya.
"Aish! Yoogeun-ah! " pekik Miina lagi.
"haha ... Geudae, ayo kita latihan saja " seru Euncha mengajak semua muridnya untuk berlatih. Euncha masih menahan tawanya.
"Rupanya aku punya saingan " bisikku pada Euncha yang langsung dibalas dengan pukulan kecil dipundakku.
Alunan musik klasik yang indah memenuhi ruangan berdinding kaca ini. Euncha sudah mengganti pakaiannya dengan kaos berwarna baby pink yang sangat kontras dengan kulit putihnya, dan rok balet berwarna hitam yang manis. Rambut coklatnya yang panjang ia gelung ke atas, hanya menyisahkan poninya. Sangat manis.
Beberapa detik Euncha menyita perhatianku dengan apa yang dia kenakan, karna aku belum pernah melihatnya seperti ini. She likes an angel.
"hana ... dul .. set ... " seru Euncha sambil mengajak muridnya untuk melakukan pemanasan.Anak-anak yang menggemaskan itu menurut pada Euncha dan mengikuti setiap gerakan Euncha.
"Ne, seperti itu So Eun " puji Euncha melihat anak-anak didiknya melakukan pemanasan. Ia sangat telaten mengurus anak-anak, hmm ... kenapa aku tiba-tiba berpikir untuk mempunyai seorang malaikat kecil dalam keluarga kami. Hahaha tapi itu masih terlalu jauh, biarkan ini berjalan sewajarnya dulu.
"Songsaenim, aku ingin melihat songsaenim menari~ " pinta Yoogeun manja saat mereka sedang istirahat.
"Yoogeun-ah~ aish kenapa kau hari nakal sekali " gerutu Miina.
"Ayolah songsaenim, aku ingin melihatnya " rajuk Yoogeun lagi dan diikuti oleh rajukkan murid lainnya. Sepertinya Yoogeun sangat dekat dengan Euncha dan maja sekali dengannya. Euncha tersenyum manis melihat Yoogeun dan murid-murid lainnya. Aku sangat menyukai senyuman manisnya.
"Aish, kaliaann " pekik Miina kesal.
"Gwechana Miina, Arraseo, Soongsaenim akan menari untuk kalian. " ucap Euncha sambil berdiri dan bersiap-siap. Aku juga ikut duduk disamping Yoogeun dan memangku Yoogeun.
Euncha mulai memainkan musik dari tape, dan berjalan ketengah ruangan, Euncha menarik nafas dalam, sekilas ia manatapku dan aku hanya tersenyum memberinya semangat.
Perlahan EUncha mulai menggerakkan kaki kirinya dan tangannya kesamping. Kaki kanannya sedikit berjinjit, satu lompatan kecil, dua, dan tiga ia lakukan dengan indah. Sepertinya Euncha sangat menyukai balet, ia menarikannya dengan penuh penghayatan. Aku melihat sisi lain dari dirinya saat menari seperti ini, tubuhnya yang mungil meliuk indah, wajahnya yang terkena sinar matahari sore dari jendela membuatnya sangat cantik.
Murid-murid sepertinya tersihir oleh tariannya, mereka tidak bergeming sedikit pun. Mata mereka tetap fokus pada setiap gerakan tarian Euncha. EUncha mulai berputar dengan mengangkat satu kakinya dan menyilangkan kakinya membentuk angka 4. Putaran cukup lama dan akhirnya Euncha mengakhirinya dengan gerakkan menundukkan badannya perlahan.
"Eh ?? Waeyo?? Jelek ya ?? " tanya Euncha heran, karna semua muridnya, Miina dan aku masih diam.
"Songsaenim, aku ingin pintar menari sperti songsaenim " seru seorang yeoja manis tiba-tiba.
"Aku juga!" teriak satu murid lagi dan diikuti oleh murid lainnya.
"Eh ?? hahahahha, ne tentu kalian bisa! " seru Euncha riang, melihat respon dari murisnya.
"Kau memang hebat, Euncha " seru Miina tersenyum pada Euncha.
"Gomawo " jawab Euncha sambil tersenyum manis. Sepertinya ia sangat bahagia, balet dan anak-anak membuatnya dia berbeda dari apa yang aku lihat sebelumnya.
~~~
"mianhae .. lama menunggu??" tanya EUncha yang baru saja kelaur dari tempat kursusnya dan sudah mengganti baju baletnya dengan truffle dress berwarna pink soft dan blazer putih gading. Rambutnya yang tadi digulung dibiarkan terurai panjang sehingga terlihat sedikit ikal dan poninya dikepang menyamping. Sangat manis.
"Oppa, Gwechanayo? " tanya Euncha lagi yang sukses membuatku sadar. Entah kenapa aku seperti pertama kali bertemu dengannya dan seperti love at the first sight. Hahaha tapi aku memang menyukainya sejak awal kami bertemu.
"Ah gwechana, ayo kita pulang." ajakku dan tiba-tiba tangan Euncha menggapai tanganku dan menggenggamnya.
"Kaza! " jawabnya sambil tersenyum manis padaku. Aku manatapnya sesaat dan tangannya yang menggenggam tanganku. Euncha masih tersenyum padaku, kubalas senyum manisnya dan kugenggam tangannya erat.
"Chagi, apa kau lapar??" tanyaku saat kami berjalan menyusuri taman kota. Euncha mengajakku jalan-jalan ke taman kota. Hahaha ini seperti first date kami.
Euncha mengangguk pelan.
"Geudae, ayo kita makan " ajakku yang langsung menggenggam tangannya dan mengajaknya ke kedai kecil dipinggir taman kota.
"Oppa kau mau pesan apa?" tanyanya sambil membaca daftar menu ditangannya.
"terserah kau saja, chagi" jawabku.
"Mm .. arraseo, permisi tuan ~ kami pesan bulgogi 2 dan kimchi. Gomawo " ucap Euncha pada sipenjual.
"Ne, tunggu sebentar nona" jawab sipenjual ramah. Tidak menunggu lama, akhirnya pesanan kami datang. Kami memakan makan malam kami sambil bercerita tentang apapun, ya aku merasa ini awal dari hubungan kami yang sempat tertunda setahun ini.
Setelah makan, Euncha mengajakku jalan-jalan memutari taman kota dan tidak terasa kami berada di Namsan Tower. Namsan Tower yang sangat tinggi dan indah.

" Oppa, ppali!! " ajaknya semangat yang langsung menarik tanganku untuk masuk kedalam tower itu.
"Eh?"
"huhff ... " desahnya saat kami naik keatas tower dengan lift. Aku melihatnya yang tengah mengepulkan asap yang keluar dari bibirnya yang merah, rupanya ia kedinginan.
"Kalo kedinginan, kenapa mengajak kesini? Kita pulang saja ya " ajakku sambil memakaikan jas-ku kepundaknya. Euncha menggeleng keras.
"andwae! sebentar lagi sampai! " tolaknya.
'ting!'
Suara lift yang kami tumpangi berdengin, pintu lift pun terbuka. Rupanya ia mengajakku ke atas Tower. Hm ? Untuk apa ?
"Oppa, ppali, kesini!! " ajaknya yang sudah ada disamping pagar yang mengelilingi atas tower ini. Banyak sekali gembok yang tertempel disini, hmm ? Ah .. aku tau, ini kan ...
"boleh aku pinjam punggungmu oppa ?" tanyanya tiba-tiba. Aku pun menurutinya dan sedikit berjongkok membelakanginya, meskipun bingung apa yang dilakukannya.
"selesai ... " serunya sesaat setelah entah seperti menulis sesuatu. Aku memiringkan kepalaku, heran.
"Aku membawa ini, semoga hubungan kita sekkuat dan seerat gembok ini" jelasnya sambil memperlihatkan gembok manis berwarna putih-pink yang dibawanya. Entah sejak kapan ia membawa benda itu, sepertinya ia sudah merencanakannya.
Aku melihat gembok yang ada ditelapak tangannya, gembok itu terdapat coretan tulisan Euncha. Tertulis manis dengan harapan-harapannya dan tentu saja itu juga harapanku. Aku tersenyum melihatnya, sepertinya ia benar-benar serius melakukannya lagi.
"Sini aku pasangkan " seruku meminta kunci untuk membuka gembok itu dan memasangkannya ke pagar yang sudah terisi penuh dengan gembok-gembok lainnya. Aku sibuk mencari tempat yang pas untuk memasang gembok ini, begitu juga dengan Euncha.
"Oppa!! Disini!! " teriaknya disebrang sana, segera aku menghampirinya. Ku pasangkan gembok kecil itu di tempat yang ditunjuk oleh Euncha.
'Klek!'
Gembok itu sudah terpasang diantara gembok besar lainnya, meskipun gembok itu kecil dan terhalang oleh gembok lainnya. Tapi harapan kami tidak sekecil gembok itu. Aku tersenyum puas dan menatap Euncha sebentar. Ia sedang mengpalkan kedua tangannya didepan dadanya dan memjamkan matanya.
Tidak kusangka ia semanis ini, meskipun pipinya yang putih sedikit kemerah-merahan karna kedinginan. Tapi ia masih sangat manis. Bibirnya yang merah seperti mengucapkan sesuatu. Entahlah apa yang diucapkannya.
"Amin ~ Oppa, dimana kuncinya?" tanyanya, ternyata ia sedang memohon sesuatu. Ku berikan kunci dari gembok kecil itu dan diterimanya. Sesaat ia tersenyum pada kunci itu, mengecupnya sebentar dan tiba-tiba melemparnya keluar sana.
"yak! " pekikku kaget.
"kaza, kita pulang " ajaknya tersenyum riang padaku, aku masih manatapnya bingung.
~~~
"Tadi kau bilang ingin pulang, tapi kenapa kau mengajak kesini?" tanyaku bingung, Euncha tiba-tiba memintaku untuk pergi kesungai Han.
"Aniyo, aku masih ingin jalan-jalan" jawabnya.
"Tapi kau sudah kedinginan, lihat badanmu sudah menggigil " seruku memeluk pundaknya dari samping.
"kita duduk disini saja oppa" ajaknya tanpa menggubris perkataanku. Aku duduk disampingnya, tiba-tiba tangannya memeluk tangan kananku dan menyandarkan kepalanya dibahuku. Jantungku seketika berdetak kencang, tidak seperti biasanya aku gugup seperti ini.
Euncha mengeratkan pelukkannya di tanganku, dan itu semakin membuat detak jantungku mengeras.
"Hmm kita jarang sekali seperti ini oppa, bahkan bisa dibilang kita tidak pernah seperti ini " kekenya pelan. Aku hanya tersenyum, aku masih mengatur detak jantungku yang tidak mau stabil ini.
"oppa ... " panggilnya lirih, suaranya sangat pelan hampir berbisik. Aku coba mengeluarkan suara daro mulutku yang dari tadi terkunci.
" Ne?" tanyaku memberanikan diri mengganggam tangannya yang masih memeluk tangan kananku.
"aniyo " serunya pelan sambil tersenyum menatap lurus kedepan. Aku menatapnya, pipinya semakin memerah karna kedinginan.
Tangan Euncha yang tadinya memeluk tanganku turun perlahan kebawah, dan tiba-tiba tangannya menggenggam tangan kananku lembut. Aku menatapnya sedikit heran, Euncha sedikit menunduk dibahuku, wajahnya terhalang oleh rambut ikal coklatnya. Mungkin ia tertidur.
"Tidurlah chagi, ... kau pasti lelah hari ini" ucapku pelan sambil menyandarkan daguku lembut ke kepalanya dan mengusap rambutnya lembut. Sesekali kukecup puncak kepalanya.
Euncha POV
"Tisurlah chagi, ... kau pasti lelah hari ini " ucapnya pelan sambil mengusap rambutku lembut dan sesekali mengecup puncak kepalaku. Dadaku semakin bergemuruh dan sesak.Tidak terasa cairan bening dimataku sudah berkumpul menjadi satu. Aku takut berkata sepatah katapun, aku takut ia mendengar isakkanku.
Aku mengangis ?? Ne ... aku menahannya sedari tadi ...
Jung Soo semakin mempererat pelukkannya, dan itu juga semakin menambah sesak didadaku dan air mata dimataku semakin ingin tumpah. Aku harap ia tidak tau.
"Mianhae ... aku masih terlalu takut " gumamku dalam hati, genggaman tanganku kupererat. Hangat dan aku tidak ingin melepasnya.
"Jung Soo, aku benar-benar tidak tau kalo saatnya sudah tiba ... Aku akan merasa bersalah padamu ... Aku yakin aku pasti menyakitimu "
"Bisakah aku meminta waktu terulang? Aku ingin disampingmu tanpa ada batas waktu seperti ini .. aku takut menyiksamu semakin dalam ... selama berjalanya waktu. Aku takut Jung Soo ... "
"Gomawo chagi untuk hari ini, Saranghae .... " gumam Jung Soo sambil mencium rambutku pelan. Tubuhku tiba-tiba bergetar, genggaman tanganku semakin erat. Menahan air mata yang sedikit lagi hampir jatuh ditangannya yang kekar dan hangat itu.
"kenapa aku harus mempunyai batas waktu denganmu? Aku masih ingin denganmu Jung Soo ... lebih lama lagi, aku sangat ingin. Aku belum menjadi pendampingmu yang baik ... aku masih ingin melihatmu setiap hari, menjadi istri yang baik untukmu ...tapi aku takut Jung Soo, aku sangat takut ... aku tidak memiliki waktu itu .... "
Air mataku akhirnya menetes ketangannya perlahan.
"Chagi ~" panggilnya lembut sambil memegang pipiku. Aku tidak berani menatapnya, aku masih menunduk. Apa ia tau aku menangis ?
"Udaranya semakin dingin, kita pulang saja. Tubuhmu mengigil, aku takut kau sakit " ajaknya lembut. Untunglah rupanya ia tidak tau kalo aku menangis. Ku hapus air mataku perlahan dan menatapnya.
"kita pulang saja ya, lain kali kita kesini lagi. Omo pipimu sangat merah" ucapnya membulatkan matanya, dan tersenyum manis padaku.
"ayo kita pulang~" ajaknya lagi. Aku mengangguk pelan dan berdiri bersamanya.
"Jung Soo-ah ... aku sangat mencintaimu, jeongmalyo saranghaeo ... "
*TBC~~
No comments:
Post a Comment