Sunday, June 12, 2011

Once While Living

"Once While Living"


main cast :

Park Jung Soo as Leteeuk

Kim Ki Bum as Ki Bum


genre : Romace, sadness



"nb : sebenernya ini ff lama difolder sampai lumutan, dan akhirnya dikeluarin juga hahahaha ... lagipula juga bingung sama judulnya, judul aslinya 'she's gone' tapi kurang yakin .. jadi mudah-mudahan yang ini cocok .. ^^

enjoy ... ^^








***


Sudah berjalan 1 tahun pernikahanku, aku menikah dengan anak dari sahabat kecil appa. Ya, kami di jodohkan karna appa ingin membalas budi pada keluarga Lee dan lagipula keluarga Lee saat ini sedang terbelit masalah perusahaan. Dan appa-lah yang membantu sekaligus membalas budinya dengan cara menjodohkan kami, anak – anaknya.


Saat pernikahan berlangsung, dia sama sekali tidak banyak kata padaku yang sudah resmi menjadi suaminya. Aku pikir mungkin dia tertekan karna pernikahan ini. Dan mungkin saja dia masih mencintai kekasihnya. Sebelum kami menikah, aku tau dia mempunyai seorang namjachingu. akupun juga begitu, aku mempunyai yeoja chingu. Tapi kami berpisah dengan cara yang kurang baik, bukan karna pernikahan ini melainkan dia bukan yeoja yang baik – baik dan sekarang aku mulai melupakannya. Ya kalo aku boleh jujur aku mulai menyukai calon istriku yang sekarang menjadi istriku yang sebenarnya. Tapi aku tau dia masih mencintainya, jadi biarkan ini berjalan sesuai waktu.


Sore itu aku pulang cepat hari ini, aku bekerja di perusahaan ternama di Korea. Appa mengalihkan perusahaannya kepadaku, sekarang aku yang memegang kendali perusahaan appa. Selagi aku menunggu Euncha yang belum juga pulang aku buatkan masakan untuknya. Meskipun tidak pandai benar aku memasak tapi setidaknya ada makanan untuk kami.
“aku pulang .. “ sapa seseorang dari ruang tamu. Rupanya dia sudah datang. Euncha bekerja di tempat Les balet. Dia mengajar anak – anak menari balet disana.
“kau pasti lelah, mandilah dulu. Aku buatkan mie ramen untuk makan malam kita, mianhae persediaan makanan kita habis dan yang tersisah hanya ini. Ottoke ? “ ucapku.
“hmm .. arraseo “ jawabnya tersenyum. Keadaan mulai mencair setelah pernikahan kami, dia mulai mau berbicara denganku meskipun suasana masih sedikit dingin.
“gwechanyo ? kau sakit ?”tanyaku panic melihat wajahnya yang sedikit pucat. Dia terlihat kaget dengan pertanyaanku.
“aniya, gwechana oppa .. “ jawabnya cepat.
“aku mandi dulu oppa .. “ lanjutnya lagi dan pergi menuju kamarnya di lantai dua. Baiklah, sekarang hanya ada aku di meja makan.akhirnya makan malam hari ini sudah matang, Tapi aku pikir Euncha lama sekali. Dia belum turun dari kamarnya. Aku sedikit khawatir dengan keadaanya terlebih lagi wajahnya tadi sangat pucat, baiklah lebih baik aku periksa.

Saat di depan kamarnya aku mendengar suara aneh yang berasal dari kamarnya. Ku ketuk pintunya.
“Chagi, gwechanayo ?” tanyaku panik. Tapi tidak ada jawaban dari dalam, ini membuatku semakin panik.
“Chagi .. ?” tanyaku lagi, tetap saja tidak ada jawaban. Tanpa basa – basi pintu kamarnya ku buka. Tidak ada siapa – siapa.
“Chagi, neomu eoddi-ya?? “ tanyaku setengah berteriak mencari – cari istriku yang tidak ada di dalam kamar. Dimana dia ?



Setiap sudut ruangan ku periksa satu persatu, tapi aku tidak menemukannya. Satu – satunya yang tersisah adalah kamar mandi. Ku ketuk pintu kamar mandi di dalam kamarnya.
“Chagi, apa kau di situ? Gwechanayo ?” tanyaku lagi, tapi tidak ada jawaban, pintu kamar mandinya juga terkunci. Akhirnya ku dobrak paksa pintu kamar mandi itu.



Tiba – tiba aku melihat pemandangan yang tidak aku inginkan, pemandangan yang membuatku kaget dan panik. Aku menemukannya tergeletak lemah di lantai kamar mandi dekat wastafel.

“ Chagi, chagiya ... ileonna !!” pintaku sambil menepuk pipinya pelan. Berharap dia sadar, tapi nihil tidak ada reaksi. Wajahnya sangat amat pucat. Cepat – cepat ku pindahkan Euncha ke kasur, dan bergegas mengambil ponsel di saku celana panjangku.

‘tuut..tuut..tuut … ‘

“aish ! cepat angkat telponnya ! “ gerutuku semakin panik.
“yoboseo ?” sapa seseorang di sebrang sana.
“Soora !! Kaza !! Siapkan perawat disana !! Kaza Soora ! “ serbuku setengah berteriak padanya. Aku menelpon Park Soo Ra, dongsaengku. Dia bekerja sebagai perawat di sebuah Rumah Sakit di Korea milik Eomma ku.
“waeyo oppa ? wae ?” tanyanya ikutan panik.
“Euncha, Soora !! Euncha !!! Dia terjatuh di kamar mandi dan sekarang dia tidak sadarkan diri ! Kaza siapkan perawat disana“ seruku.
“Aigoo !! Arraseo oppa “ ku matikan telepon dan ku gendong lagi Euncha menuju mobilBMW new A3 Silver yang masih ada di garasi.



Setelah mengeluarkannya, akupun langsung tancap gas menuju rumah sakit. Aku mencoba berusaha tenang, tiba – tiba Euncha sedikit sadar.
“oppa .. “ rintihnya pelan.
“chagi, bertahanlah … jebal “ sahutku sambil memegang kepalanya dengan tangan kiriku yang bebas sedangkan tanganku mulai menyalakan mobil.
“ahh … “ erangnya lagi dan itu membuat dadaku seperti tersayat – sayat.
“bertahanlah chagi, kita sebentar lagi sampai .. jebal “ tanganku menggengam tangannya. Dengan emosi aku mengendarai mobil ini dengan kecepatan 100km.



Sesampainya di rumah sakit, Soora dan beberapa perawat lainnya sudah menunggu di depan koridor rumah sakit. Cepat – cepat aku mengeluarkan Euncha dan meletakkannya pelan di kasur berjalan. Beberapa perawat mendorong kasur itu dan aku juga terus ada di sampingnya.
“oppa .. “ rintihnya lagi.
“chagi kita sampai, sabar ya chagi … “ jawabku dengan suara bergetar. Aku benar – benar tidak tega melihatnya seperti ini.
“oppa, biar Ki Bum oppa yang mengurus ini semua. Oppa disini saja “ suruh Soora saat di depan pintu UGD. Akupun menurut.
Soora masuk ke dalam ruang UGD itu, di pintu yang sedikit transparan itu aku bisa melihat mereka sedang sibuk merawat istriku. Sebenarnya ada apa ini ??
“tuhan, aku harap dia baik – baik saja … “ ucapku sambil menutup wajahku dan menunduk resah menunggu Euncha.


30 menit berlalu, Soora keluar dengan mendorong Euncha yang masih tergeletak lemah di kasur berjalannya. Dan di susul dengan Ki Bum, suami dongsaengku yang bekerja menjadi dokter disini. Aku bangkit dan menghampirinya.
“bagaimana keadaannya, Ki Bum ?” tanyaku panic. Ki Bum menghela nafas panjang. Aku masih menunggunya berbicara.
“noona baik – baik saja, hyung. Dia cuma kelelahan, hanya demam. “ jelas Ki Bum tersenyum sambil menepuk pundakku. Lega juga mendengar penjelasannya.
“syukurlah ... apa aku boleh melihatnya ?” tanyaku.
“Ne, silahkan ... “ jawab Ki Bum mempersilahkan masuk ke kamar Euncha di rawat. Akupun memasukinya.



Terlihat Euncha yang tertidur lemah di kasur dengan selang infuse yang menancap di tangan kanannya. Aku mendekatinya dan mengambil duduk di sebelah ranjangnya.
“Euncha ... “ panggilku sambil menggenggam tangan kanannya yang terpasang infuse. Euncha diam, dia belum sadarkan diri.
“kenapa kau tidak bilang kalau kau sedang sakit ?” tanyaku pada Euncha yang masih tertidur. Tanganku yang satunya mengelus rambutnya pelan. Badannya sangat panas.
“cepatlah sembuh chagi ... “ ku cium tangan kanannya yang terhalang infuse dan aku tertidur di sampingnya.




TBC"

ya ... mian kalo jelek ~ kekekkekekek mianhae ^^ *bow






No comments:

Post a Comment